Tawa Cekikik Dua Pembual di Hutan Terkutuk

Minggu 15-02-2026,08:30 WIB

Tempat di mana suara-suara cekikikan terdengar lantang setiap menjelang “malam tertentu”. Janji-janji manis dilontarkan dengan wajah polos. Kata-kata disusun rapi. Narasi dibungkus indah. Namun setelah waktu berlalu, yang tersisa hanya gema kosong.

Bukankah kita sering mendengar tawa seperti itu?

Tawa yang muncul setelah rakyat percaya. Tawa yang terdengar ketika janji tinggal janji. Tawa yang seolah berkata: “Kalian terlalu mudah percaya.”

Ironisnya, kita lebih takut pada cerita hantu daripada pada pembual yang nyata-nyata berdiri di hadapan kita.

Kita sibuk membawa “air garam dan paku” untuk menangkal makhluk halus, tetapi lupa menyiapkan nalar kritis untuk menangkal dusta yang diucapkan dengan mikrofon dan panggung megah.

Padahal, jika kuntilanak konon konsisten dengan pakaian putihnya yang tak pernah berubah, sebagian manusia justru lihai berganti rupa. Hari ini berbaju sederhana, besok bersetelan mewah. Hari ini berbicara tentang rakyat, esok lupa pada mandat.

Siapa sebenarnya yang lebih menyeramkan?

Makhluk yang sekadar legenda, atau pembual yang nyata?

Otong dan Kondang mungkin hanya dua pemuda desa yang patah hati. Namun di antara tawa cekikik mereka, terselip kegelisahan generasi yang muak pada janji semu.

Hutan terkutuk itu bisa jadi hanyalah simbol dari sistem yang gelap. Dan suara cekikikan di dalamnya adalah gema dari mereka yang merasa tak tersentuh, tak tersalahkan, dan tak perlu menepati ucapan.

Kita hidup di zaman ketika kebohongan bisa dikemas seperti kebenaran. Ketika pencitraan lebih penting dari kejujuran. Ketika konsistensi dianggap kuno.

Barangkali yang perlu kita takutkan bukan lagi hantu di balik pepohonan, melainkan manusia yang kehilangan integritas.

Dan jika suatu malam Anda mendengar tawa cekikikan di kejauhan, jangan buru-buru menyalahkan makhluk halus.

Siapa tahu, itu hanya gema dari janji yang tak pernah ditepati. (*)

Kategori :