Cuaca Lampung Terasa Menyengat hingga Malam, Ini Penjelasan Ahli Klimatologi

Cuaca Lampung Terasa Menyengat hingga Malam, Ini Penjelasan Ahli Klimatologi

Cuaca panas di sejumlah wilayah Lampung belakangan ini membuat masyarakat merasa gerah, bahkan hingga malam hari. Kepala Stasiun Klimatologi Lampung, Rudi, menjelaskan suhu siang masih berkisar 33–35°C. Minimnya tutupan awan, kelembapan udara yang tinggi,--

RADARTVNEWS.COM – Cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah Lampung belakangan ini menjadi keluhan masyarakat. Hawa gerah bahkan masih terasa hingga malam hari, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai penyebab kondisi udara yang dirasakan lebih panas daripada biasanya.

Kepala Stasiun Klimatologi Lampung, Rudi, menjelaskan bahwa suhu udara di Lampung secara umum masih berada dalam kisaran normal, yakni sekitar 33–35 derajat Celsius pada siang hari. Meski demikian, sejumlah kondisi atmosfer dapat membuat suhu yang dirasakan tubuh terasa lebih terik dan tidak nyaman.

Menurut Rudi, faktor yang memengaruhi kondisi tersebut meliputi minimnya tutupan awan, kelembapan udara yang tinggi, pergerakan angin yang relatif lemah, serta posisi gerak semu Matahari di sekitar wilayah ekuator.

Minimnya Tutupan Awan Membuat Sinar Matahari Lebih Terasa

Salah satu faktor yang menyebabkan cuaca terasa terik adalah minimnya tutupan awan. Dalam kondisi tersebut, sinar Matahari dapat mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa karena tidak banyak terhalang awan.

Rudi menjelaskan bahwa kondisi ini terutama terasa pada pagi hingga siang hari, ketika permukaan bumi menerima energi Matahari.

Minimnya awan memungkinkan permukaan tanah dan berbagai benda di sekitarnya menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Akibatnya, lingkungan dapat terasa lebih panas, meskipun suhu udara yang tercatat masih berada dalam kisaran normal untuk wilayah tersebut.

Kelembapan Tinggi Membuat Udara Terasa Lebih Gerah

Selain tutupan awan, kelembapan udara turut memengaruhi kenyamanan masyarakat. Kelembapan yang tinggi membuat keringat lebih sulit menguap dari permukaan kulit.

Padahal, penguapan keringat merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk melepaskan panas. Ketika proses tersebut terhambat, tubuh menjadi lebih sulit mendinginkan diri sehingga udara terasa lebih gerah.

Kondisi ini menjelaskan mengapa suhu yang tercatat pada alat pengukur belum tentu sepenuhnya menggambarkan tingkat panas yang dirasakan seseorang. Kelembapan, pergerakan udara, paparan Matahari, dan aktivitas fisik juga berpengaruh terhadap kenyamanan tubuh.

Angin Lemah Membuat Hawa Panas Bertahan

Faktor berikutnya adalah pergerakan angin yang relatif lemah. Ketika angin bertiup pelan, sirkulasi udara di sekitar permukaan dapat berkurang sehingga hawa panas terasa bertahan lebih lama.

Angin membantu pertukaran udara di lingkungan sekitar dan mendukung pelepasan panas dari tubuh. Jika pergerakannya terbatas, udara di sekitar seseorang dapat terasa lebih pengap, terutama ketika kelembapan juga tinggi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait