Katanya Healing, Kok Saldo Ikut Pusing? Tren Self-Reward di Kalangan Anak Muda

Katanya Healing, Kok Saldo Ikut Pusing? Tren Self-Reward di Kalangan Anak Muda

Ilustrasi Kaum Muda Shopping -magnific.com-

RADARTVNEWS.COM — Istilah healing dan self-reward semakin menjadi bagian dari kehidupan kaum muda. Setelah melalui berbagai kegiatan yang melelahkan, banyak yang memilih untuk memberi penghargaan bagi diri mereka sendiri dengan berbagai cara, seperti membeli makanan kesukaan, menikmati kopi di kafe, berbelanja, menonton film, atau pergi berlibur.

Bagi sebagian orang, self-reward adalah cara sederhana untuk menghargai diri setelah menyelesaikan pekerjaan, menghadapi perkuliahan, atau mencapai tujuan tertentu. Ungkapan seperti “sudah capek, jadi boleh beli” semakin banyak muncul dalam pembicaraan dan konten di media sosial.

Media sosial semakin memperkuat tren ini. Konten tentang cafe hopping, shopping, staycation, hingga rekomendasi tempat makan membuat aktivitas yang dulunya dianggap sebagai hiburan sesekali kini tampak menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Banyak anak muda yang menjadikan membeli minuman kekinian atau makanan favorit sebagai tanda penghargaan setelah menjalani hari yang melelahkan. Memang, jumlah uang yang dikeluarkan terkesan kecil jika dilakukan sesekali. Namun, kebiasaan ini dapat menjadi masalah saat dilakukan berulang kali tanpa mempertimbangkan kondisi finansial.

Fenomena ini kemudian menghasilkan lelucon yang cukup terkenal di media sosial: “Katanya healing, kok saldo ikut pusing? ” Ungkapan ini mencerminkan situasi di mana keinginan untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri justru membuat pengeluaran menjadi semakin sulit untuk dikelola.

Sebenarnya, konsep self-reward tidak selalu harus berhubungan dengan pengeluaran uang. Mengalokasikan waktu untuk bersantai, melakukan hobi, berolahraga, membaca, atau menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat juga bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Masalah muncul ketika self-reward dijadikan alasan untuk berbelanja secara impulsif. Keinginan untuk segera mendapatkan kesenangan bisa mendorong seseorang untuk membeli barang yang sebetulnya tidak terlalu perlu.

Pengaruh media sosial juga berperan dalam fenomena ini. Ketika pengguna melihat orang lain menikmati makanan mahal, berlibur, membeli barang baru, atau pergi ke tempat-tempat yang sedang viral, timbul keinginan untuk melakukan hal serupa agar tidak merasa tertinggal.

Oleh karena itu, self-reward harus tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu kesehatan finansial. Salah satu cara adalah dengan menetapkan batas anggaran khusus untuk hiburan atau keinginan pribadi. Dengan demikian, seseorang dapat menikmati hasil kerja keras tanpa mengorbankan kebutuhan utama.

Membuat daftar kebutuhan, membedakan antara keinginan dan kebutuhan, serta menyisihkan uang untuk tabungan sebelum melakukan self-reward juga dapat membantu menjaga kondisi finansial.

Pada akhirnya, memberi penghargaan kepada diri sendiri adalah hal yang normal. Namun, bentuk penghargaan tersebut tidak selalu harus berupa barang yang dibeli dengan uang. Karena itu, healing seharusnya membuat pikiran menjadi lebih tenang, bukan malah membuat seseorang memikirkan tagihan dan saldo setelahnya.

BACA JUGA:Boros vs Healing: Belanja karena Butuh atau Cuma Balas Dendam?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: