Sepuluh Ribu Langkah Sehari Jadi Tren, Ini Fakta Penting yang Perlu Diketahui

Sepuluh Ribu Langkah Sehari Jadi Tren, Ini Fakta Penting yang Perlu Diketahui

Tren sehat di era sekarang yaitu berjalan kaki dengan jarak tempuh langkah yang bervariasi -Pinterest-

RADARTVNEWS.COM – Jalan kaki 10.000 langkah sehari sering dianggap sebagai patokan ideal untuk menjaga tubuh tetap aktif. 

Target tersebut bahkan banyak digunakan pada aplikasi kesehatan dan jam tangan pintar. Namun, angka 10.000 langkah sebenarnya bukan batas wajib yang harus dicapai setiap orang untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa konsep 10.000 langkah berasal dari Jepang pada 1960-an dan berkaitan dengan penggunaan alat penghitung langkah bernama manpo-kei. Dengan demikian, angka tersebut lebih tepat dipandang sebagai target populer untuk mendorong masyarakat bergerak, bukan sebagai batas medis yang harus dicapai setiap hari.

Di Indonesia, pentingnya aktivitas fisik masih menjadi perhatian. Dalam publikasi BKPK Kementerian Kesehatan pada November 2025, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Sementara itu, 62,6 persen lainnya tercatat cukup melakukan aktivitas fisik. Alasan terbanyak masyarakat kurang bergerak adalah tidak memiliki waktu sebesar 48,7 persen, diikuti rasa malas sebesar 32,6 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan aktivitas fisik tidak semata-mata mengenai pencapaian 10.000 langkah. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang membiasakan tubuh untuk tetap bergerak dalam kehidupan sehari-hari. 

BACA JUGA:Rutin Jalan Kaki Bisa Jaga Kesehatan Otak dan Perpanjang Harapan Hidup, Ini Kata Penelitian

Jalan kaki dapat menjadi salah satu pilihan sederhana, terutama bagi masyarakat yang banyak menghabiskan waktu dengan duduk atau bekerja di depan layar.

Kementerian Kesehatan juga terus mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup aktif. Dalam publikasi BKPK pada April 2026, Kemenkes menyoroti gaya hidup sedentari yang semakin umum seiring kemudahan teknologi dan aktivitas sehari-hari yang semakin banyak dibantu mesin atau sistem otomatis. Aktivitas fisik sederhana dinilai dapat menjadi pilihan untuk menjaga tubuh tetap aktif.

Rekomendasi aktivitas fisik juga tidak harus selalu diterjemahkan menjadi jumlah langkah. BKPK Kemenkes pada 2025 menyebut orang dewasa berusia 18–64 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu. Bentuknya dapat berupa jalan cepat, bersepeda santai, berenang, menari, bermain bola, hingga melakukan pekerjaan rumah tangga.

Dengan demikian, seseorang tidak perlu merasa gagal hanya karena jumlah langkah hariannya belum mencapai 10.000. Bagi orang yang sebelumnya jarang bergerak, meningkatkan aktivitas secara bertahap dapat menjadi langkah awal yang lebih realistis. 

Kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki, menggunakan tangga, atau melakukan peregangan di sela aktivitas dapat membantu mengurangi waktu yang terlalu banyak dihabiskan dalam posisi duduk.

Kemenkes juga menekankan pentingnya menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dalam publikasi April 2026, berjalan kaki disebut sebagai salah satu aktivitas yang dapat dibangun menjadi kebiasaan, termasuk melalui aktivitas rutin selama sekitar 30 menit secara bertahap.

Karena itu, tren menghitung langkah menggunakan ponsel atau jam pintar sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai motivasi untuk lebih aktif. Namun, angka 10.000 sebaiknya tidak dipandang sebagai target mutlak. Berjalan lebih banyak daripada biasanya, mengurangi waktu duduk, serta rutin melakukan aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari pola hidup aktif.

Jadi, 10.000 langkah bukan angka wajib untuk semua orang. Jumlah langkah yang dilakukan dapat berbeda sesuai aktivitas dan kondisi masing-masing. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: kemenkes ri