Mengurai Mitos dan Fakta Medis di Balik Fenomena Sugar Rush

Mengurai Mitos dan Fakta Medis di Balik Fenomena Sugar Rush

Ilustrasi makanan manis-Athene Naidoo-Pinterest

RADARTVNEWS.COM - Persepsi mengenai keterkaitan antara konsumsi makanan manis dan peningkatan perilaku hiperaktif pada anak telah lama mengakar dalam masyarakat. Fenomena yang kerap diistilahkan sebagai sugar rush ini sering dijadikan alasan utama saat anak menunjukkan lonjakan energi secara mendadak usai mengonsumsi camilan bergula tinggi.

Kendati demikian, sejumlah literatur medis dan studi ilmiah menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak memiliki basis bukti empiris yang kuat.

Mitos yang Terbantahkan secara Ilmiah

Secara biologis, anggapan bahwa asupan glukosa secara langsung memicu keaktifan berlebih pada anak merupakan sebuah miskonsepsi. Salah satu tinjauan analitis yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) mengungkapkan bahwa konsumsi gula tidak memberikan dampak signifikan terhadap perilaku maupun fungsi kognitif anak.

Dalam uji klinis acak terkontrol secara samar ganda (double-blind randomized control trial)—di mana respons anak diawasi tanpa memublikasikan jenis pemanis yang diberikan—peneliti tidak menemukan perbedaan perilaku yang signifikan antara kelompok yang mengonsumsi gula alami dan pemanis buatan.

Pengaruh Stimulasi Lingkungan

Perubahan perilaku yang sering teramati pada anak saat mengonsumsi makanan manis umumnya dipicu oleh faktor psikologis dan lingkungan, bukan semata-mata akibat reaksi kimiawi gula dalam tubuh.

Makanan manis lazimnya disajikan dalam situasi sosial yang menyenangkan, seperti perayaan ulang tahun atau rekreasi. Tingkat kegembiraan yang tinggi serta interaksi antar-sebaya dalam momentum tersebut memicu pelepasan hormon adrenalin, yang kemudian berdampak pada peningkatan respons fisik anak.

Selain itu, ekspektasi dari orang dewasa turut memengaruhi persepsi tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang percaya pada mitos sugar rush cenderung menilai anak mereka lebih hiperaktif setelah mengonsumsi gula, terlepas dari apakah makanan tersebut benar-benar mengandung gula atau tidak.

Implikasi Sugar Crash bagi Tubuh

Berbeda dengan mitos sugar rush, respons tubuh terhadap lonjakan kadar gula yang nyata secara medis adalah sugar crash.

Asupan gula berlebih menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah secara drastis. Sebagai respons, pankreas memproduksi insulin dalam jumlah besar untuk menetralkan glukosa tersebut. Proses ini menyebabkan penurunan kadar gula darah secara mendadak, yang justru berpotensi menimbulkan gejala kelelahan, penurunan konsentrasi, serta perubahan suasana hati menjadi lebih sensitif.

Imbauan Pembatasan Asupan Gula

Meskipun keterkaitan antara gula dan perilaku hiperaktif terbukti tidak signifikan, pengetatan konsumsi gula tetap menjadi prioritas dalam aspek kesehatan publik. Organisasi kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pembatasan asupan gula bebas hingga di bawah 10 persen dari total energi harian.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: