Sering Menggerakkan Kaki Tanpa Sadar? Waspadai Restless Legs Syndrome (RLS)

Sering Menggerakkan Kaki Tanpa Sadar? Waspadai Restless Legs Syndrome (RLS)

ilustrasi kaki--pinterest

RADARTVNEWS — Kebiasaan menggerakkan kaki secara tidak sadar saat sedang duduk santai atau hendak tidur sering kali dianggap sekadar refleks biasa, bentuk rasa gugup, atau kebiasaan buruk semata. Namun, dalam dunia medis, kondisi ini bisa menjadi indikasi dari gangguan saraf yang dikenal sebagai Restless Legs Syndrome (RLS) atau Sindrom kaki Gelisah. RLS merupakan gangguan neurologis yang menyebabkan seseorang merasakan sensasi tidak nyaman pada area kaki, seperti gatal, menjalar, atau terasa seperti dirayapi serangga, sehingga memicu dorongan kuat dan tak tertahankan untuk terus menggerakkannya. Sensasi ini umumnya muncul atau memburuk saat tubuh berada dalam keadaan diam, terutama pada sore dan malam hari sebelum tidur.

Pakar kesehatan mengungkapkan bahwa pemicu utama kondisi ini berkaitan erat dengan ketidakseimbangan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang bertugas mengontrol pergerakan otot. Selain masalah dopamin, faktor genetik, kekurangan zat besi, penyakit ginjal kronis, hingga masa kehamilan juga dapat memicu atau memperparah gejala tersebut. Pola hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi kafein dan alkohol secara berlebihan, turut memperbesar risiko munculnya gangguan ini. Meskipun sering diabaikan, RLS dapat berdampak serius pada kualitas hidup penderitanya karena rasa tidak nyaman yang memuncak di malam hari kerap memicu insomnia parah, kelelahan kronis, hingga penurunan konsentrasi saat beraktivitas di siang hari.

Untuk meredakan gejalanya, para ahli menyarankan beberapa perubahan gaya hidup, seperti rutin berolahraga ringan, memijat atau merendam kaki dengan air hangat sebelum tidur, serta menjaga pola makan kaya zat besi. Selain itu, membatasi asupan kafein dan menjaga jadwal tidur yang teratur sangat membantu mengurangi frekuensi gerak spontan tersebut. Namun, jika dorongan menggerakkan kaki sudah sangat mengganggu kenyamanan dan waktu istirahat harian, masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf guna mendapatkan diagnosis serta penanganan medis yang tepat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: