Anxious Attachment Ramai Dibahas, Pola Keterikatan yang Picu Kecemasan dalam Hubungan
Ilustrasi hubungan-Radar Lampung TV-Ilustrasi
RADARTVNEWS.COM - Istilah anxious attachment belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang mengaitkannya dengan kebiasaan overthinking dalam hubungan, seperti cemas saat pesan tak segera dibalas atau takut pasangan berubah sikap.
Dalam kajian Attachment Theory yang diperkenalkan oleh John Bowlby, anxious attachment merupakan salah satu bentuk keterikatan tidak aman. Individu dengan pola ini cenderung memiliki kebutuhan tinggi akan kedekatan emosional, namun di sisi lain juga dihantui rasa takut ditolak atau ditinggalkan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang dengan pola ini lebih sensitif terhadap perubahan kecil dalam hubungan dan membutuhkan kepastian secara terus-menerus. Kondisi tersebut kerap membuat mereka mudah merasa cemas, bahkan ketika tidak ada masalah yang jelas.
Para ahli menyebut pola ini umumnya terbentuk sejak masa kecil, terutama akibat pola asuh yang tidak konsisten—di mana kebutuhan emosional anak tidak selalu terpenuhi secara stabil. Selain itu, pengalaman hubungan di masa dewasa seperti penolakan atau komunikasi yang tidak jelas juga dapat memperkuat kecenderungan tersebut.
Meski demikian, anxious attachment bukanlah gangguan mental, melainkan pola perilaku dalam relasi yang masih dapat berubah. Dengan kesadaran diri dan pengalaman hubungan yang lebih sehat, seseorang dapat membangun rasa aman yang lebih stabil dalam menjalin kedekatan emosional.
Fenomena ini dinilai semakin relevan di era digital, ketika komunikasi berbasis pesan singkat sering memicu salah tafsir dan kecemasan berlebih. Popularitas istilah ini di media sosial pun mendorong banyak orang untuk lebih mengenali kondisi emosional mereka, meski para ahli mengingatkan agar tidak mudah memberi label tanpa pemahaman yang utuh.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: clinical psychological science
