Pentingnya Mengedukasi Anak tentang Bahaya Digital agar Terhindar dari Child Grooming

Pentingnya Mengedukasi Anak tentang Bahaya Digital agar Terhindar dari Child Grooming

Internet bisa menjadi tempat paling bahaya bagi anak! tetap waspada dan jaga keluarga anda-Pexels-Jonathan Borba

RADARTVNEWS.COM - Internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Mereka memanfaatkannya untuk belajar, bermain gim, menonton video, hingga berkomunikasi melalui media sosial. Kemudahan ini memang membawa banyak manfaat, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk memanfaatkan kepolosan anak.

Ancaman tersebut bukan lagi sekadar kekhawatiran. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI yang dikutip FISIPERS Universitas Mulawarman, tercatat sebanyak 1.450.403 kasus eksploitasi seksual anak di ruang digital sepanjang tahun 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa keamanan anak di dunia maya masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian bersama (FISIPERS UNMUL, 2026).

Salah satu bentuk kejahatan digital yang perlu diwaspadai adalah child grooming. Istilah ini merujuk pada tindakan seseorang yang membangun hubungan emosional dengan anak secara bertahap untuk mendapatkan kepercayaan, dengan tujuan melakukan eksploitasi atau kekerasan seksual. Pelaku umumnya memanfaatkan media sosial, aplikasi pesan, hingga gim daring sebagai sarana untuk mendekati korban.

Modus yang digunakan pun beragam. Pelaku dapat berpura-pura menjadi teman sebaya, sesama pemain gim, bahkan sosok yang dianggap baik dan peduli. Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan korban, mereka mulai meminta informasi pribadi, mengajak berkomunikasi secara lebih tertutup, hingga meminta foto atau video yang tidak pantas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Anak juga perlu dibekali dengan edukasi digital agar mampu mengenali ancaman dan memahami cara melindungi diri saat beraktivitas di internet. Edukasi tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengajarkan anak untuk tidak membagikan informasi pribadi kepada orang yang baru dikenal di dunia maya, tidak mudah mempercayai identitas seseorang di media sosial, serta berani menolak permintaan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

BACA JUGA:Anak Kecil Kecanduan Bermain Smartphone? Ini 7 Aktivitas Pengganti Screen Time

Ada beberapa tanda yang dapat menjadi indikasi child grooming. Misalnya, seseorang yang terlalu cepat bersikap akrab, sering memberikan hadiah atau perhatian berlebihan, meminta percakapan dipindahkan ke aplikasi yang lebih privat, meminta anak merahasiakan hubungan tersebut dari orang tua, atau mengajak bertemu secara langsung tanpa sepengetahuan keluarga. Apabila anak mengalami situasi seperti ini, mereka perlu segera menghentikan komunikasi, memblokir akun pelaku, dan melaporkannya kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.

Peran orang tua menjadi salah satu faktor terpenting dalam mencegah terjadinya child grooming. Pendampingan tidak selalu berarti membatasi penggunaan internet, tetapi membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak merasa aman untuk bercerita ketika mengalami hal yang mencurigakan. Orang tua juga dapat mengaktifkan fitur parental control, mendampingi aktivitas digital anak, serta memberikan pemahaman mengenai etika dan keamanan dalam menggunakan internet sesuai dengan usia mereka.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital anak. Materi mengenai keamanan berinternet, perlindungan data pribadi, dan cara mengenali berbagai bentuk kejahatan digital dapat diperkenalkan melalui kegiatan pembelajaran maupun sosialisasi. Dengan demikian, anak tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkreasi, tetapi juga memahami risiko yang mungkin mereka hadapi.

Di era digital saat ini, melindungi anak tidak hanya dilakukan di lingkungan nyata, tetapi juga di ruang digital. Edukasi mengenai bahaya child grooming perlu diberikan sejak dini agar anak memiliki keberanian untuk berkata "tidak", mengenali tanda-tanda bahaya, dan segera mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang mengancam. Dengan kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan platform digital, diharapkan tercipta ruang digital yang lebih aman sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang tanpa menjadi korban kejahatan siber.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: fisipers unmul. (2026). child grooming dan tanggung jawab sosial : dimanakah peran masyarakat?

Berita Terkait