Minat K-Pop di Indonesia 2026: Menurun atau Hanya Bergeser?

Minat K-Pop di Indonesia 2026: Menurun atau Hanya Bergeser?

Popularitas K-Pop di Indonesia-Radar Lampung TV-

RADARTVNEWS.COM - Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap musik K-Pop pada tahun 2026 menunjukkan dinamika yang rumit. Di satu sisi, beberapa data memperlihatkan adanya penurunan pengaruh K-Pop di industri musik dalam negeri. Akan tetapi, di sisi lain, jumlah penggemarnya masih terus berkembang, menunjukkan bahwa fenomena ini lebih merupakan perubahan tren ketimbang penurunan yang signifikan.

Data dari Spotify Daily Chart di kawasan Asia Tenggara menunjukkan bahwa proporsi lagu K-Pop di Indonesia telah menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya K-Pop mendominasi tangga lagu digital, saat ini bagiannya turun menjadi sekitar 1 persen dari total konsumsi musik di platform streaming.

Penurunan ini juga terlihat di tingkat regional. Indonesia bahkan dikatakan sebagai negara dengan minat K-Pop terendah jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand dan Filipina.

Survei yang dilakukan oleh Jakpat juga menunjukkan adanya perubahan dalam preferensi pendengar. Sebanyak 74 persen dari responden menyatakan lebih tertarik pada musisi lokal, sedangkan penggemar K-Pop hanya sekitar 40 persen. Ini menunjukkan bahwa musik lokal saat ini semakin penting dan bersaing di pasar dalam negeri.

Akan tetapi, penurunan dominasi ini tidak otomatis menunjukkan bahwa K-Pop kehilangan pengaruhnya di Indonesia. Data dari Spotify malah menunjukkan bahwa Indonesia tetap jadi salah satu pasar paling besar K-Pop di dunia, bahkan menduduki posisi kedua sebagai pasar ekspor terbesar setelah Amerika Serikat.

Selanjutnya, jumlah pendengar baru K-Pop di Indonesia tercatat mencapai puncaknya pada 2025. Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penggemar terus berlangsung, terutama di kalangan generasi muda.

Beberapa faktor menerangkan pergeseran tren ini. Pertama, kebangkitan industri musik lokal yang semakin kokoh, baik dari aspek kualitas produksi maupun kedekatan budaya dengan audiens. Kedua, faktor ekonomi seperti tingginya harga tiket konser dan barang dagangan K-Pop menyebabkan beberapa penggemar berpindah ke pilihan yang lebih hemat.

Ketiga, munculnya kejenuhan terhadap pola industri K-Pop yang repetitif juga disebut menjadi salah satu penyebab berkurangnya intensitas konsumsi di kalangan pendengar umum. Meski demikian, kelompok penggemar inti atau fandom tetap aktif dan loyal.

Dengan demikian, kondisi tahun 2026 menunjukkan bahwa K-Pop di Indonesia tidak benar-benar mengalami penurunan secara absolut, melainkan mengalami normalisasi setelah masa puncaknya. Dominasi memang berkurang, tetapi eksistensi dan pengaruhnya masih kuat, terutama di komunitas penggemar yang solid.

Perubahan ini sekaligus mencerminkan kedewasaan pasar musik Indonesia, di mana selera pendengar menjadi lebih beragam dan tidak lagi didominasi oleh satu genre global saja.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: spotify data insights

Berita Terkait