Ini Dua Musuh Utama Hancurkan Lambung Gen Z

Ini Dua Musuh Utama Hancurkan Lambung Gen Z

ilustrasi organ lambung yang mengalami iritasi akibat lonjakan asam lambung atau GERD--pinterest

BANDAR LAMPUNG, RADARTVNEWS – Fenomena penyakit refluks asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) mengalami perubahan signifikan di Indonesia. Masalah pencernaan yang sebelumnya diasosiasikan dengan usia tua, kini sering kali menghantui generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Data klinis dari para tenaga kesehatan menunjukkan bahwa tingkat stres akademik yang tinggi dan kebiasaan gaya hidup instan menjadi dua faktor utama yang merugikan lambung generasi mendatang.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat perubahan tren yang mengkhawatirkan ini, di mana setidaknya 36 persen angka kejadian penyakit lambung ditemukan di kalangan remaja dan orang dewasa muda. Pola hidup perkotaan yang serba cepat ditambah tekanan tugas yang besar diduga sebagai penyebab utama lonjakan angka tersebut.

Menurut penjelasan medis, stres akademik akibat beban kuliah, harapan nilai, hingga kecemasan mengenai masa depan mendorong otak untuk memproduksi hormon kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Hormon stres ini secara otomatis meningkatkan produksi asam di dalam lambung dengan agresif sekaligus mengurangi kekuatan dinding pelindungnya.

Kondisi psikologis yang tertekan ini semakin diperburuk oleh gaya hidup instan yang diadopsi oleh Gen Z. Demi mengejar efisiensi waktu, banyak dari mereka yang sering mengonsumsi makanan olahan (ultra-processed food), mi instan, kuliner pedas, hingga kopi dalam jumlah berlebih saat begadang. Kebiasaan menunda waktu makan akibat jadwal padat menyebabkan asam lambung mengikis dinding lambung yang kosong, memicu peradangan (gastritis), hingga menyebabkan sindrom refluks asam kronis.

Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa mengabaikan gejala awal seperti perut kembung, sering bersendawa, dan rasa nyeri di dada (heartburn) dapat berakibat fatal dalam jangka panjang. Tanpa penanganan yang tepat, komplikasi serius seperti luka permanen di kerongkongan hingga peningkatan risiko kanker esofagus dapat mengancam kualitas hidup produktif mereka.

Untuk menghentikan rantai 'epidemi tidak terlihat' ini, generasi muda sangat dianjurkan untuk mulai menyeimbangkan manajemen stres dengan teknik relaksasi, mengutamakan konsumsi makanan segar (real food), serta mengembalikan disiplin jam makan demi menjaga stabilitas biologis lambung mereka.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: