Gelombang Panas Eropa Berdampak pada Lebih dari 1.300 Warga, Ini Penyebabnya

Gelombang Panas Eropa Berdampak pada Lebih dari 1.300 Warga, Ini Penyebabnya

Penyebab Gelombang Panas Eropa-Radar Lampung-Radar Lampung

RADARTVNEWS.COMGelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak akhir Juni 2026 memberikan dampak besar terhadap masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian tambahan (excess deaths) terjadi sejak 21 Juni 2026 akibat kondisi cuaca ekstrem tersebut.

 

Negara-negara seperti Prancis, Spanyol, Italia, dan Inggris mengalami lonjakan suhu yang jauh di atas rata-rata. Di Paris, Prancis, suhu udara mencapai 41 derajat Celsius, sementara di sejumlah wilayah Spanyol menyentuh 40 derajat Celsius sehingga otoritas setempat mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem.

 

Berdasarkan analisis World Weather Attribution, gelombang panas dipicu kombinasi faktor cuaca alami dan perubahan iklim yang dipengaruhi aktivitas manusia.

 

Fenomena ini terjadi karena terbentuknya sistem tekanan udara tinggi (high-pressure system) yang bertahan selama beberapa hari di wilayah Eropa Barat. Sistem tersebut memerangkap udara panas di permukaan sekaligus menarik aliran udara bersuhu tinggi dari Gurun Sahara menuju Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, hingga Inggris bagian selatan.

BACA JUGA:Prancis Terbakar: Gelombang Panas Luar Biasa Lumpuhkan Aktivitas Kota

 

Akibatnya, suhu di berbagai wilayah meningkat sekitar 5 hingga 12 derajat Celsius di atas rata-rata musimannya.

 

Para peneliti menilai perubahan iklim membuat fenomena cuaca ekstrem seperti ini menjadi lebih intens. Peningkatan emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam menjadi salah satu faktor yang mempercepat kenaikan suhu global.

 

WHO mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lanjut usia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menjaga asupan cairan selama gelombang panas masih berlangsung. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: world health organization (who)