Berburu Sertifikat demi CV, Apakah Perekrut Benar-Benar Memperhatikannya?
Ilustrasi Sertifikat-M. Al Ghifary Nur-
RADARTVNEWS.COM - Satu webinar selesai, satu sertifikat masuk ke folder penyimpanan. Beberapa hari kemudian, sertifikat lain kembali bertambah. Bagi sebagian mahasiswa, pemandangan ini bukan hal yang asing.
Di tengah maraknya seminar, pelatihan, dan kursus daring, mengumpulkan sertifikat seolah menjadi bagian dari persiapan memasuki dunia kerja.
Fenomena tersebut semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kegiatan menawarkan sertifikat elektronik yang dapat diunduh hanya dengan mengikuti acara selama beberapa jam.
Tidak sedikit peserta yang tertarik mendaftar karena melihat sertifikat sebagai nilai tambah untuk CV, bahkan sebelum mempertimbangkan materi yang akan dipelajari.
Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, anggapan bahwa semakin banyak sertifikat berarti semakin besar peluang diterima kerja memang terdengar masuk akal.
Sertifikat dianggap mampu menunjukkan bahwa seseorang aktif belajar, mengembangkan keterampilan, dan memiliki inisiatif untuk meningkatkan kemampuan diri.
BACA JUGA:Wamendikti Stella Christie Minta Pelamar Tak Sertakan Foto di CV Demi Hindari Diskriminasi
Namun, apakah dunia kerja benar-benar melihatnya dengan cara yang sama?
Bagi banyak perekrut, sertifikat memang dapat menjadi nilai tambah. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa pelamar pernah mengikuti pelatihan atau mempelajari bidang tertentu. Akan tetapi, sertifikat umumnya hanya menjadi pelengkap, bukan faktor utama dalam proses seleksi.
Hal ini karena perusahaan tidak hanya mencari orang yang pernah mengikuti pelatihan, tetapi juga mereka yang mampu menerapkan apa yang telah dipelajari.
Seseorang mungkin memiliki puluhan sertifikat dalam bidang pemasaran digital, desain grafis, atau manajemen proyek. Namun ketika diminta menunjukkan hasil kerja atau menjelaskan keterampilan yang dimiliki, tidak semua mampu memberikan bukti yang sesuai.
Di sinilah letak perbedaan antara mengumpulkan sertifikat dan membangun kompetensi. Sertifikat dapat menunjukkan bahwa seseorang pernah belajar, tetapi belum tentu membuktikan bahwa keterampilan tersebut benar-benar dikuasai.
Fenomena ini juga memunculkan kebiasaan yang cukup menarik di kalangan mahasiswa. Tidak sedikit yang mengikuti webinar demi mendapatkan sertifikat, lalu menyimpan dokumen tersebut tanpa pernah kembali membuka materi yang diberikan.
Akibatnya, sertifikat bertambah, tetapi pengetahuan yang diperoleh tidak berkembang secara signifikan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: