Silent Quitting: Malas Kerja atau Bentuk Bertahan Hidup?

Silent Quitting: Malas Kerja atau Bentuk Bertahan Hidup?

Silent Quitting-Pinterest-

RADARTVNEWS.COM – Kalau beberapa tahun lalu lembur dianggap sebagai tanda pekerja keras, sekarang mulai banyak orang yang punya pandangan berbeda.

Mereka tetap datang ke kantor, tetap menyelesaikan pekerjaan, dan tetap profesional. Tapi setelah jam kerja selesai, ya selesai. Tidak lagi membuka laptop tengah malam, tidak selalu membalas chat kantor di hari libur, dan tidak merasa harus mengambil semua pekerjaan tambahan yang datang. Fenomena ini dikenal dengan istilah silent quitting.

Meski namanya terdengar seperti mengundurkan diri diam-diam, sebenarnya silent quitting bukan berarti berhenti bekerja. Orang yang melakukannya tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya seperti biasa. Bedanya, mereka mulai menetapkan batas yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Nah, di sinilah perdebatan mulai muncul. Ada yang menganggap silent quitting sebagai bentuk kemalasan. Menurut mereka, kalau ingin berkembang dan naik karier, seseorang harus mau memberikan usaha lebih dari sekadar menyelesaikan tugas pokok. Tapi di sisi lain, banyak juga yang melihat fenomena ini sebagai cara bertahan hidup di tengah dunia kerja yang semakin menuntut.

Coba lihat kondisi sekarang. Banyak pekerja yang harus menghadapi target tinggi, beban kerja yang terus bertambah, hingga tuntutan untuk selalu bisa dihubungi kapan saja. Belum lagi tekanan ekonomi yang membuat banyak orang harus tetap bekerja meski sedang lelah secara fisik maupun mental. Akibatnya, tidak sedikit yang mulai merasa kehabisan energi. Istilah kerennya, burnout.

Karena itulah sebagian pekerja mulai berpikir ulang. Mereka sadar pekerjaan memang penting, tapi hidup tidak melulu soal pekerjaan. Mereka masih ingin punya waktu untuk keluarga, teman, hobi, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah. Menariknya, pola pikir seperti ini banyak ditemukan pada generasi muda.

Bukan karena mereka tidak punya ambisi, tetapi karena mereka melihat kesuksesan dengan cara yang berbeda. Kalau dulu sukses sering diukur dari seberapa sibuk seseorang bekerja, sekarang banyak yang mulai menganggap kesehatan mental dan kualitas hidup juga bagian dari kesuksesan. Makanya tidak heran kalau istilah work-life balance semakin sering terdengar.

BACA JUGA: Kerja Utama Belum Cukup? Ini Alasan Banyak Orang Punya Side Hustle!

Di media sosial pun topik ini sering memicu perdebatan. Ada yang mendukung karena merasa pekerja berhak memiliki batasan. Ada juga yang mengkritik karena dianggap bisa menurunkan produktivitas dan semangat kerja.

Seseorang bisa saja tetap menjadi karyawan yang produktif tanpa harus lembur setiap hari. Sebaliknya, ada juga yang terlihat sangat sibuk tetapi sebenarnya sudah kelelahan dan kehilangan motivasi.

Banyak orang mulai menyadari bahwa bekerja keras itu penting, tetapi menjaga kesehatan fisik dan mental juga tidak kalah penting.

Jadi, apakah silent quitting itu malas kerja? 

Jawabannya mungkin berbeda-beda bagi setiap orang. Namun satu hal yang pasti, semakin banyak pekerja saat ini yang berusaha mencari titik tengah antara mengejar karier dan tetap menikmati hidup.(*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait