IDAI Kirim Surat Terbuka ke BGN, Ingatkan Risiko Distribusi Susu Formula Massal
Ilustrasi. IDAI ingatkan pentingnya ASI untuk bayi.--
RADARTVNEWS.COM - Surat terbuka dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sedang ramai dibahas publik. Dalam surat tersebut, para dokter anak mengingatkan soal pentingnya menjaga pemberian Air Susu Ibu (ASI) di tengah kebijakan distribusi susu formula yang mulai dijalankan secara massal.
Surat itu ditujukan langsung kepada Kepala BGN, Dadan Hindayana, beserta jajaran wakil kepala badan. Isi pesannya cukup jelas, yakni meminta pemerintah lebih berhati-hati dalam menjalankan program gizi untuk bayi dan anak.
IDAI menilai distribusi susu formula tanpa pemeriksaan dokter maupun indikasi medis berpotensi membuat banyak ibu berhenti menyusui lebih cepat.
Padahal menurut para dokter anak, ASI masih menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi karena mengandung berbagai zat penting yang belum bisa sepenuhnya digantikan oleh susu formula.
Dalam surat tersebut, IDAI menjelaskan bahwa ASI bukan sekadar makanan biasa. Di dalamnya terdapat komponen penting seperti antibodi, bakteri baik untuk kesehatan usus, hingga zat yang mendukung perkembangan otak anak.
Karena itu, para dokter mengingatkan agar kebijakan yang dibuat pemerintah tidak sampai berdampak pada menurunnya angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia.
Meski begitu, IDAI juga menegaskan bahwa mereka memahami pemerintah sedang berupaya memenuhi kebutuhan gizi anak lewat berbagai program nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun mereka berharap langkah yang diambil tetap selaras dengan aturan kesehatan dan rekomendasi medis yang berlaku.
Dalam surat terbuka itu, IDAI menyampaikan empat rekomendasi kepada pemerintah. Salah satunya adalah meminta adanya sinkronisasi kebijakan antara BGN dan Kementerian Kesehatan.
Selain itu, IDAI juga meminta agar penggunaan susu formula dikembalikan sesuai fungsi awalnya, yakni hanya diberikan berdasarkan rekomendasi dokter dan kebutuhan medis tertentu.
Para dokter anak juga mendorong pemerintah untuk lebih memprioritaskan pangan lokal dalam program pemenuhan gizi nasional.
Mereka menilai Indonesia memiliki banyak sumber pangan bergizi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan lebih maksimal dibanding bergantung pada produk tertentu.
Tidak hanya itu, IDAI juga meminta pemerintah menyesuaikan petunjuk teknis program intervensi gizi dengan aturan yang sudah berlaku, termasuk Undang-Undang Kesehatan, pedoman gizi Kementerian Kesehatan, hingga kode internasional WHO terkait pemasaran produk pengganti ASI.
Surat terbuka tersebut kemudian ramai beredar di media sosial dan memunculkan banyak respons dari masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: