Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Pulih, Sementara Chernobyl Masih Berbahaya?
Ilustrasi -Foto: Trisha Pritikin-Pinterest
RADARTVNEWS.COM - Banyak orang bertanya-tanya kalau Hiroshima dan Nagasaki pernah dibom atom, kenapa sekarang bisa jadi kota normal lagi, sementara wilayah seperti Chernobyl sampai sekarang masih terpapar dengan radiasi?
Jawabannya ada pada jenis ledakan, jumlah material radioaktif yang dilepas, dan bagaimana radiasi itu menyebar.
Di Hiroshima dan Nagasaki, bom atom meledak sebagai airburst atau ledakan di udara. Bom Hiroshima, yang dijuluki Little Boy, meledak sekitar 580 meter di atas tanah. Tujuannya agar gelombang panas dan tekanan menghancurkan area lebih luas.
Karena meledak di udara, partikel radioaktif tidak banyak bercampur dengan tanah dan bangunan di bawahnya. Akibatnya, radiasi sisa atau fallout yang menetap di permukaan jauh lebih sedikit.
Menurut situs resmi Hiroshima, sekitar 5% energi bom berupa radiasi awal yang dilepaskan dalam hitungan detik saat ledakan, dan 10% berupa radiasi sisa.
Sebagian besar radiasi awal inilah yang langsung menyebabkan kematian dan penyakit akut pada korban di sekitar pusat ledakan. Sementara itu, sekitar 80% dari radiasi sisa dilepaskan dalam 24 jam pertama.
Dalam seminggu, levelnya turun drastis hingga sekitar sepersejuta dari level awal. Karena peluruhannya cepat, kota itu relatif lebih aman untuk dihuni kembali setelah beberapa waktu.
Selain itu, bom atom hanya melepaskan energi dalam satu ledakan singkat. Setelah ledakan selesai, tidak ada mesin yang terus memproduksi radiasi.
Berbeda dengan kecelakaan nuklir di Chernobyl tahun 1986. Yang meledak di sana adalah reaktor nuklir, bukan bom.
Saat reaktor nomor 4 meledak dan terbakar, inti reaktor yang berisi bahan bakar nuklir, grafit, dan ratusan zat radioaktif terlontar ke udara selama berhari-hari. Kebakaran grafit membuat pelepasan radiasi berlangsung terus-menerus, bukan cuma satu kali ledakan.
Masalah terbesar di Chernobyl adalah adanya isotop radioaktif berumur panjang seperti:
- Cesium-137 (waktu paruh sekitar 30 tahun)
- Strontium-90 (sekitar 29 tahun)
- Plutonium-239 (sekitar 24.000 tahun)
Zat-zat ini menempel di tanah, air, pohon, bahkan masuk ke rantai makanan. Karena waktu paruhnya panjang, wilayah itu tetap berbahaya selama puluhan hingga ribuan tahun. Bahkan sekarang masih ada titik-titik dengan radiasi sangat tinggi.
Kalau dianalogikan, Hiroshima dan Nagasaki seperti rumah yang dibakar besar-besaran lalu apinya cepat padam. Kerusakannya parah, tapi setelah api mati, puing bisa dibersihkan dan dibangun lagi.
Sedangkan Chernobyl seperti pabrik kimia yang meledak lalu terus bocor racun ke tanah, air, dan udara. Jadi bukan cuma bangunannya yang rusak, tapi lingkungannya ikut teracuni.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: