Viral di Sosial Media, Lagu “Erika” HMT-ITB Picu Kontroversi Publik
Lirik lagu Erika - HMT ITB --Screenshot Video Tiktok
RADARTVNEWS.COM — Sebuah video penampilan mahasiswa yang beredar di TikTok mendadak jadi sorotan publik. Dalam video tersebut, terlihat sekelompok mahasiswa membawakan lagu berjudul “Erika” dalam sebuah kegiatan. Siapa sangka, dari potongan video singkat itu, muncul gelombang diskusi panjang yang akhirnya menyeret nama Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) ke tengah kontroversi.
Sebuah lagu yang berjudul “Erika”, karya dari unit Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB). Lagu yang diperkirakan dibuat pada era 1980-an ini awalnya hanya dikenal di lingkup internal kampus. Namun, situasinya berubah drastis ketika potongan lagu tersebut kembali beredar luas di sosial media.
Kembalinya lagu “Erika” ke ruang publik bukan tanpa sebab. Momentum ini beriringan dengan mencuatnya dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dari situ, warganet mulai menyoroti berbagai konten lama yang dianggap memiliki muatan serupa, termasuk lagu ini.
Banyak pengguna media sosial menilai lirik “Erika” mengandung unsur yang tidak pantas dan berpotensi mengarah pada pelecehan. Kritik pun bermunculan, terutama dari kalangan mahasiswa dan alumni yang menilai bahwa konten seperti ini tidak lagi relevan dengan nilai yang seharusnya dijunjung di lingkungan akademik saat ini.
Penyebaran lagu ini juga terbilang masif. Tidak hanya diputar dalam kegiatan internal, rekaman “Erika” kini beredar di berbagai platform digital, baik dalam bentuk video penampilan maupun audio lama yang diunggah ulang oleh pengguna internet. Bahkan, beberapa versi lama dari sekitar tahun 2020 kembali muncul dan ikut memperluas jangkauan kontroversi ini.
Menanggapi situasi tersebut, HMT-ITB akhirnya buka suara. Pada 15 April 2026, mereka merilis pernyataan resmi yang berisi permohonan maaf kepada publik. Dalam pernyataan itu, organisasi mengakui bahwa konten dari lagu tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijaga oleh lingkungan kampus maupun organisasi kemahasiswaan.
Tidak berhenti di situ, HMT-ITB juga mengambil langkah konkret. Mereka menghubungi berbagai pihak untuk menurunkan konten terkait “Erika” dari kanal resmi, sekaligus mengimbau individu yang memiliki keterkaitan dengan organisasi untuk ikut menghapus unggahan serupa. Upaya ini termasuk penanganan terhadap video lama yang kembali beredar luas di masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, evaluasi internal juga akan dilakukan. HMT-ITB menyatakan akan meninjau ulang seluruh aspek, mulai dari konten, pelaksanaan kegiatan, hingga sistem pengawasan dalam organisasi. Lagu-lagu atau materi lain yang memiliki potensi serupa juga akan ikut dikaji ulang agar ke depan lebih selaras dengan perkembangan nilai etika di lingkungan kampus dan masyarakat.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana karya lama bisa kembali diangkat dan dinilai ulang dengan sudut pandang masa kini. Apa yang dulu dianggap biasa, kini bisa memicu kritik luas ketika berhadapan dengan kesadaran publik yang semakin berkembang, terutama terkait isu sensitif seperti pelecehan dan etika sosial.
Di tengah derasnya arus digital, satu hal jadi jelas: jejak masa lalu bisa muncul kembali kapan saja. Dan ketika itu terjadi, cara meresponsnya akan sangat menentukan bagaimana sebuah institusi dipandang ke depannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: