Rahasia Dibalik Gurihnya Seruit Khas Way Kanan, Primadona di Meja Makan Keluarga Hari Sabtu
ilustrasi bahan makan-pinterest-
RADARTVNEWS.COM - Aroma ikan bakar yang mengepul, sambal terasi yang menggoda, dan perpaduan rasa asam, pedas, serta gurih yang menyatu tanpa basa-basi itulah identitas dari Seruit, kuliner khas Lampung yang tak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat, khususnya di Way Kanan.
Bagi banyak keluarga, hari Sabtu bukan sekadar penutup pekan kerja. Ia adalah momen berkumpul, di mana meja makan menjadi pusat cerita dan Seruit hadir sebagai bintang utamanya. Hidangan ini biasanya terdiri dari ikan bakar atau goreng yang dipadukan dengan sambal terasi, tempoyak (fermentasi durian), serta lalapan segar.
“Kalau belum makan seruit, rasanya belum benar-benar pulang ke rumah,” ujar seorang warga sambil tersenyum, mencerminkan kedekatan emosional antara makanan dan identitas budaya.
Rahasia kelezatan Seruit sebenarnya terletak pada keseimbangan rasa. Tidak ada yang terlalu dominan. Pedasnya sambal, asamnya tempoyak, gurihnya ikan, serta segarnya lalapan berpadu seperti orkestra yang harmonis. Setiap suapan bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghadirkan kenangan.
Selain soal rasa, proses memasaknya pun menyimpan nilai tradisi. Ikan biasanya dibakar di atas arang untuk menghasilkan aroma khas yang sulit digantikan oleh kompor modern. Sambal diulek manual agar teksturnya tetap terasa “hidup”, bukan sekadar halus tanpa karakter.
Namun di tengah perubahan gaya hidup yang serba cepat, tradisi makan Seruit bersama keluarga mulai menghadapi tantangan. Makanan instan dan kesibukan sering kali menggeser momen kebersamaan yang dulu begitu sakral.
Di sinilah pentingnya menjaga tradisi, bukan sekadar sebagai warisan, tetapi sebagai identitas. Pemerintah daerah dan pelaku kuliner diharapkan dapat terus mempromosikan Seruit sebagai ikon gastronomi lokal, bahkan hingga ke tingkat nasional.
Pada akhirnya, Seruit bukan hanya soal makanan. Ia adalah cerita tentang rumah, tentang kebersamaan, dan tentang bagaimana rasa bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Di Way Kanan, setiap hari Sabtu, cerita itu terus dihidangkan hangat, sederhana, dan penuh makna. (*)
BACA JUGA:Lari dari Penat: Curup Gangsa Jadi Pelarian Favorit Warga Way Kanan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: