Komunitas Literasi Keliling: Membawa Jendela Dunia ke Dusun-Dusun Terpencil di Way Kanan
Stack of books on a motorcycle rack-pinterst-
RADARTVNEWS.COM - Di tengah sunyi jalan tanah dan hamparan kebun yang membentang, sebuah motor tua melaju perlahan, membawa lebih dari sekadar barang di belakangnya. Di dalam tas dan kotak sederhana itu, tersimpan buku-buku jendela kecil menuju dunia yang lebih luas. Inilah wajah dari gerakan Komunitas Literasi Keliling, inisiatif yang diam-diam menyalakan cahaya pengetahuan di dusun-dusun terpencil di Way Kanan.
Setiap pekan, para relawan menyusuri jalan yang tak selalu ramah. Debu, lumpur, bahkan hujan bukan halangan. Mereka datang bukan membawa janji besar, melainkan aksi nyata: membuka lapak baca sederhana di halaman rumah warga, balai dusun, atau bahkan di bawah pohon rindang.
Anak-anak yang awalnya canggung perlahan mendekat. Rasa penasaran mengalahkan malu. Satu per satu buku dibuka, lembar demi lembar dibalik, dan tanpa disadari, imajinasi mereka mulai terbang melampaui batas desa.
“Di sini susah dapat buku. Jadi kalau kakak-kakak datang, senang sekali,” ujar seorang anak dengan mata berbinar, menggenggam buku cerita bergambar.
Gerakan ini bukan sekadar tentang membaca, tetapi tentang membuka kemungkinan. Di wilayah yang akses pendidikannya masih terbatas, kehadiran komunitas ini menjadi jembatan antara keterbatasan dan harapan.
Namun perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Keterbatasan koleksi buku, minimnya dukungan logistik, hingga akses jalan yang sulit menjadi bagian dari realitas yang dihadapi. Meski begitu, semangat para relawan tetap menyala karena bagi mereka, satu anak yang jatuh cinta pada buku adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah.
Sejumlah pihak mulai melirik gerakan ini sebagai potensi kolaborasi. Dukungan dari pemerintah daerah, sekolah, hingga donatur dinilai krusial untuk memperluas jangkauan literasi hingga ke pelosok yang belum tersentuh.
Dengan langkah sederhana namun konsisten, Komunitas Literasi Keliling membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, cukup dari satu buku, satu senyum, dan satu perjalanan menuju dusun berikutnya.
Di balik halaman-halaman yang dibuka, ada mimpi yang sedang ditulis. Dan di Way Kanan, mimpi itu kini mulai menemukan jalannya. (*)
BACA JUGA:Lari dari Penat: Curup Gangsa Jadi Pelarian Favorit Warga Way Kanan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: