Jam Tidur Bisa Menentukan Karakter dan Tingkat Kebahagiaan, Ini Kajian Psikologinya
Ilustrasi--ISTIMEWA
RADARTVNEWS.COM - Tidur adalah kebutuhan dasar manusia. Namun, lebih dari sekadar istirahat, jam tidur ternyata juga bisa mencerminkan kepribadian serta memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang. Psikologi menyebutkan bahwa pola tidur tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga erat hubungannya dengan kondisi mental dan kepuasan hidup.
Morning Person vs Night Owl
Dalam psikologi, manusia dibagi ke dalam dua tipe besar berdasarkan pola tidurnya. Pertama adalah morning person, yaitu orang yang terbiasa bangun lebih awal. Mereka biasanya digambarkan lebih disiplin, teratur, dan stabil secara emosional. Penelitian juga menemukan bahwa orang dengan pola tidur teratur cenderung lebih produktif dan merasa puas dengan hidup.
Sebaliknya, ada tipe night owl atau orang yang suka begadang. Mereka sering kali dikaitkan dengan sifat kreatif, spontan, dan fleksibel. Namun, sisi lain dari kebiasaan tidur larut malam ini adalah risiko lebih besar terhadap rasa lelah, gangguan konsentrasi, stres, bahkan depresi.BACA JUGA:Dampak Jam Tidur Berantakan, hingga Rasa Nyesal yang Membelit Produktivitas
Kenapa Begadang Membuat Kurang Bahagia?
Tidur larut malam secara konsisten dapat mengacaukan ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur energi, hormon, dan mood. Jika ritme ini terganggu, berbagai dampak negatif bisa muncul, mulai dari kelelahan sepanjang hari, suasana hati yang murung, hingga sulit menikmati aktivitas sehari-hari.
Dalam jangka panjang, kebiasaan begadang bisa memicu masalah psikologis yang lebih serius. Kondisi ini menjelaskan mengapa night owl sering kali melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur teratur.
Fakta dari Dunia Riset
Sejumlah penelitian besar mendukung pandangan ini. Misalnya, studi dari Stanford Medicine (2024) yang melibatkan hampir 75.000 orang dewasa menemukan bahwa orang yang tidur larut malam lebih berisiko mengalami gangguan mental, termasuk depresi dan kecemasan. Menariknya, evening type yang mencoba tidur lebih awal justru memiliki kesehatan mental lebih baik.
Penelitian University College London (2022) juga mengungkapkan bahwa tingkat kebahagiaan paling tinggi dirasakan pada pagi hari, sedangkan paling rendah sekitar tengah malam. Temuan ini diperoleh dari survei terhadap 50.000 orang dewasa selama dua tahun.BACA JUGA:Begadang dan Stres Akibat Ketergantungan Gadget, Ini Dampaknya pada Tidur dan Mental Remaja
Sementara itu, riset Brunel University of London (2025) menemukan bahwa night owl lebih sering mengalami masalah kesehatan mental, tetapi tidur yang berkualitas bisa mengurangi risiko tersebut. Bahkan, data dari German Socio-Economic Panel (2016) menunjukkan kepuasan hidup tertinggi dimiliki oleh orang yang tidur rata-rata 8 jam per malam.
Dengan kata lain, tidur cukup dan teratur terbukti menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan hidup.
Tidur sebagai Investasi Kesehatan Mental
Psikolog menyarankan orang dewasa untuk tidur selama 7–9 jam per malam dengan jadwal yang konsisten. Tidur yang berkualitas membantu tubuh memperbaiki sel, menyeimbangkan hormon, serta menjaga kestabilan emosi. Selain itu, tidur cukup juga memperkuat daya ingat, meningkatkan fokus, dan membuat seseorang lebih mampu menghadapi stres harian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: