Konsumsi Junk Food Meningkat, Ancaman Penyakit Kronis di Depan Mata
gambar junkfood-foto:Ist-
RADARTVNEWS.COM — Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Data Kementerian Kesehatan pada 2025 mencatat bahwa konsumsi junk food naik sebesar 18% dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan ini diikuti dengan peningkatan prevalensi obesitas hingga 25%, dengan kelompok usia 15–35 tahun sebagai penyumbang terbesar
Junk food umumnya mengandung kadar lemak jenuh, gula, dan garam yang tinggi, tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral. Berdasarkan laporan Pusat Gizi Nasional, pola konsumsi seperti ini berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, hipertensi, dan gangguan fungsi hati.
Laporan World Health Organization (WHO) tahun 2024 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-10 dunia dalam jumlah penderita obesitas pada anak dan remaja. Kondisi ini diperburuk oleh pola hidup sedentari, di mana aktivitas fisik harian menurun, serta tingginya akses terhadap makanan cepat saji di kawasan perkotaan.
Selain faktor kebiasaan makan, kemudahan mendapatkan junk food turut mempercepat pergeseran pola konsumsi masyarakat. Jaringan restoran cepat saji berkembang pesat di berbagai kota besar, didukung oleh layanan pesan antar yang semakin populer. Harga yang relatif terjangkau dan waktu penyajian yang singkat membuat junk food menjadi pilihan utama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi permasalahan ini. Program edukasi gizi diperluas ke sekolah-sekolah dan komunitas, dengan fokus pada pentingnya konsumsi sayur, buah, dan sumber protein alami. Selain itu, kampanye pengurangan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak terus digencarkan. Beberapa daerah bahkan mulai menerapkan pembatasan iklan makanan tidak sehat yang menyasar anak-anak.
BACA JUGA:Anak Muda dan Junk Food: Tren yang Mengkhawatirkan
Jika tren konsumsi junk food tidak terkendali, beban penyakit kronis diprediksi akan meningkat secara signifikan dalam dua dekade mendatang. Kondisi ini tidak hanya berpotensi menurunkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga meningkatkan beban pembiayaan kesehatan negara. Perubahan pola makan dan gaya hidup menjadi kunci dalam mencegah krisis kesehatan di masa depan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
