Data Desil Bermasalah, Mahasiswi Berprestasi Asal Surabaya Terancam Putus Kuliah

 Data Desil Bermasalah, Mahasiswi Berprestasi Asal Surabaya Terancam Putus Kuliah

-ilustrasi AI-

RADARTVNEWS.COM - Kisah perjuangan seorang mahasiswi berprestasi asal Surabaya, Diandra Fristi, menjadi perhatian setelah dirinya terancam kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan akibat persoalan data kesejahteraan.

Diandra diketahui menghadapi kendala saat mendaftarkan diri sebagai penerima beasiswa Be Smart melalui aplikasi Pemerintah Kota Surabaya. Masalah muncul karena data desil kesejahteraan yang tercatat tidak sesuai dengan data yang dimilikinya.

Berdasarkan data Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Diandra tercatat berada di Desil 2.Posisi tersebut menunjukkan bahwa keluarganya masuk dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah.

Namun, ketika melakukan pendaftaran beasiswa Be Smart, data Diandra justru tercatat berada di Desil 7.Perbedaan tersebut membuat dirinya tidak masuk dalam kategori keluarga miskin atau prasejahtera yang menjadi salah satu pertimbangan dalam pemberian bantuan pendidikan.

Persoalan itu berdampak langsung terhadap kondisi pendidikan Diandra. Kesulitan memperoleh bantuan membuat dirinya mengalami kendala dalam membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

BACA JUGA:Kuota Beasiswa Guru Naik Tajam, 150 Ribu Pendidik Berkesempatan Tempuh Kuliah S1

Sebagai mahasiswa berprestasi, Diandra berusaha keras agar tetap dapat melanjutkan kuliahnya meski berada dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Demi memenuhi kebutuhan pendidikan, ia bahkan sempat berjualan gantungan kunci.

Perjuangan tersebut dilakukan karena Diandra tidak ingin persoalan biaya membuat dirinya harus menghentikan pendidikan yang sedang ditempuh.

Kasus yang dialami Diandra kemudian mendapat perhatian dari Wakil Wali Kota Surabaya Armuji. Persoalan perbedaan data tersebut turut dimediasi dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya.

Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menjelaskan bahwa adanya perbedaan data desil tersebut berkaitan dengan proses pemutakhiran data.

Menurutnya, Dinsos Kota Surabaya belum menerima pemutakhiran data dari Kementerian Sosial. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan adanya perbedaan informasi antara data yang digunakan dalam sistem kesejahteraan dengan data yang muncul saat proses pendaftaran beasiswa.

BPS Kota Surabaya selanjutnya berupaya mempercepat proses penerimaan sekaligus pemutakhiran data agar persoalan yang dialami Diandra dapat segera diselesaikan.

Kasus ini menjadi gambaran bahwa ketepatan dan keterbaruan data penerima bantuan sangat penting, terutama dalam menentukan akses masyarakat terhadap program pendidikan.

Bagi mahasiswa seperti Diandra, beasiswa bukan hanya sekadar bantuan finansial, tetapi juga menjadi penopang agar mereka dapat menyelesaikan pendidikan tanpa terbebani persoalan biaya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: