Bahan Baju yang Wajib Dihindari Jika Tidak Ingin Bau Badan

Bahan Baju yang Wajib Dihindari Jika Tidak Ingin Bau Badan

ilustrasi-foto: Pinterest-

RADARTVNEWS.COM - Bau badan merupakan masalah umum yang sering mengganggu rasa percaya diri, terutama saat beraktivitas di luar rumah atau bertemu banyak orang. Selama ini, banyak orang mengira bau badan hanya disebabkan oleh keringat dan kurangnya kebersihan tubuh. Padahal, jenis bahan pakaian yang digunakan juga memiliki peran besar dalam memicu atau mencegah timbulnya bau tidak sedap. Pakaian yang tidak mampu menyerap keringat dengan baik akan membuat area kulit tetap lembap, sehingga bakteri penyebab bau berkembang lebih cepat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bahan-bahan baju apa saja yang sebaiknya dihindari jika tidak ingin mengalami masalah bau badan.

Salah satu bahan yang paling sering dikaitkan dengan bau badan adalah polyester. Bahan ini banyak digunakan karena kuat, tidak mudah kusut, dan harganya relatif terjangkau. Namun, polyester termasuk bahan sintetis yang tidak menyerap keringat secara optimal. Ketika tubuh berkeringat, cairan tersebut akan tertahan di permukaan kulit karena serat polyester tidak memungkinkan sirkulasi udara yang baik. Kondisi lembap ini menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang dan menghasilkan aroma tidak sedap. Bahkan, bau yang sudah menempel pada pakaian berbahan polyester sering kali sulit hilang meskipun telah dicuci, terutama jika sering digunakan untuk aktivitas berat.

Selain polyester, nilon juga merupakan bahan yang perlu dihindari bagi orang yang mudah berkeringat. Nilon memiliki karakter ringan, licin, dan cepat kering, tetapi hampir tidak memiliki kemampuan menyerap keringat. Ketika dipakai dalam waktu lama, nilon membuat keringat hanya berpindah ke permukaan kain tanpa benar-benar diserap. Akibatnya, kulit tetap terasa lembap dan gerah. Area tubuh seperti ketiak, dada, dan punggung menjadi lebih rentan menghasilkan bau tidak sedap karena bakteri berkembang dengan cepat di lingkungan yang hangat dan lembap.

Bahan berikutnya adalah spandex atau elastane, yang biasanya digunakan sebagai campuran untuk memberi efek elastis pada pakaian. Spandex memang membuat pakaian terasa pas di badan dan nyaman dipakai, namun sifatnya yang menahan panas dan kelembapan dapat memicu munculnya bau badan. Apalagi jika digunakan pada pakaian yang ketat, sirkulasi udara semakin terbatas. Keringat yang terperangkap di antara kulit dan kain tidak bisa menguap dengan baik, sehingga bakteri penyebab bau akan semakin aktif. Inilah sebabnya pakaian olahraga atau pakaian dalam dengan kandungan spandex tinggi sering cepat berbau jika tidak segera dicuci.

Akrilik juga termasuk bahan yang sebaiknya dihindari, terutama saat cuaca panas. Bahan ini sering digunakan sebagai alternatif wol karena lebih ringan dan murah. Namun, akrilik memiliki daya serap keringat yang rendah dan cenderung menahan panas. Ketika digunakan dalam kondisi tubuh berkeringat, kain ini membuat suhu tubuh terasa lebih panas dan lembap. Keadaan tersebut dapat memperparah produksi bau badan karena bakteri lebih mudah berkembang pada kulit yang terus-menerus basah oleh keringat.BACA JUGA:Mitos atau Fakta, Warna Baju yang Kita Pakai Bisa Menggambarkan Mood dan Perasaan Kita?

Tidak hanya bahan sintetis murni, pakaian dengan campuran bahan sintetis dalam persentase tinggi juga berisiko memicu bau badan. Banyak pakaian yang diberi label kombinasi katun dan polyester, namun kandungan polyester-nya lebih dominan. Walaupun terlihat seperti bahan alami, kenyataannya daya serap keringatnya tetap rendah. Pakaian jenis ini sering terasa panas saat dipakai lama, terutama jika digunakan untuk bekerja di luar ruangan atau saat cuaca terik. Jika tidak diperhatikan, campuran bahan sintetis ini bisa memberikan efek yang sama buruknya dengan bahan sintetis penuh.

Selain menyebabkan bau badan, penggunaan bahan yang tidak menyerap keringat juga dapat menimbulkan masalah kulit lain, seperti iritasi, gatal, dan ruam. Kelembapan yang terperangkap di permukaan kulit membuat pori-pori sulit bernapas. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu infeksi jamur atau bakteri ringan, terutama di lipatan tubuh seperti ketiak, leher, dan area punggung. Oleh karena itu, memilih bahan pakaian bukan hanya soal gaya, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan kulit dan kenyamanan tubuh.

Sebagai alternatif, bahan alami seperti katun, linen, atau rayon lebih disarankan karena memiliki daya serap keringat yang lebih baik dan memungkinkan sirkulasi udara berjalan lancar. Dengan begitu, keringat dapat lebih cepat menguap dan bakteri tidak mudah berkembang. Menghindari bahan seperti polyester, nilon, spandex, akrilik, serta campuran sintetis berlebihan merupakan langkah sederhana namun efektif untuk menjaga tubuh tetap segar sepanjang hari.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: