BANNER HEADER DISWAY HD

Fenomena Sungai Eufrat Mengering : Ini Dia Profil Sungai Terpanjang di Asia

Fenomena Sungai Eufrat Mengering : Ini Dia Profil Sungai Terpanjang di Asia

Ilustrasi --Kolase

RADARTVNEWS.COM - Fenomena berkurangnya debit air Sungai Eufrat dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian dunia. Selain dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkannya, pengeringan sungai ini kerap dikaitkan dengan ramalan akhir zaman atau tanda kiamat dalam berbagai kepercayaan. 

Dalam tradisi Islam, terdapat hadis yang menyebutkan bahwa menjelang kiamat, Sungai Eufrat akan mengering dan memperlihatkan harta karun besar yang menjadi rebutan manusia.

Pandangan serupa juga muncul dalam tradisi Kristen dan Yahudi, di mana Eufrat disebut dalam kitab suci sebagai salah satu sungai penting pada peristiwa-peristiwa akhir zaman. Meski begitu, banyak ulama menekankan bahwa penafsiran tersebut tidak boleh dilepaskan dari konteks iman, sehingga fenomena pengeringan Eufrat sebaiknya dilihat secara bijak tanpa menimbulkan kepanikan.

untuk memahami isu ini secara utuh, penting melihat profil dan peran penting Eufrat dalam sejarah, budaya, hingga kehidupan masyarakat modern.

Ini Dia Profil Sungai Eufrat:

Sungai Eufrat merupakan salah satu sungai terpanjang di Asia Barat dengan panjang sekitar 2.800 kilometer. Bersama Sungai Tigris, Eufrat membentuk wilayah yang dikenal sebagai Mesopotamia dan sering disebut sebagai “Cradle of Civilization” atau tempat lahirnya peradaban.

Di tepian kedua sungai inilah, ribuan tahun lalu, berdiri kerajaan-kerajaan besar seperti Sumeria, Babilonia, hingga Asyur.

BACA JUGA:Destinasi Wisata Religi Terpopuler di Indonesia

Aliran Eufrat membentang melewati empat negara yakni, Turki, Suriah, Irak, dan sebagian kecil Iran. Sungai ini menjadi sumber utama air untuk pertanian, perikanan, transportasi, serta kebutuhan domestik jutaan orang yang tinggal di sekitarnya. Tanpa Eufrat, Mesopotamia tidak akan tumbuh menjadi pusat peradaban dunia.

Pada faktanya Ada beberapa faktor utama yang menyebabkannya yakni, perubahan iklim yang memicu kekeringan panjang, pembangunan bendungan besar di hulu sungai, serta peningkatan kebutuhan air untuk irigasi. 

Secara ilmiah, surutnya air Sungai Eufrat merupakan konsekuensi nyata dari aktivitas manusia dan perubahan iklim global. Namun, bagi sebagian masyarakat beragama, hal ini juga menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia di hadapan takdir Ilahi.

Dengan kata lain, Eufrat bukan hanya sungai biasa. Ia adalah saksi bisu sejarah peradaban, penopang kehidupan jutaan orang, sekaligus simbol spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: