Beauty Privilege: Keistimewaan Nyata atau Sekadar Ilusi Semata
--Foto : Pinterest
Efek Samping: Tekanan, Objektifikasi, hingga Ketimpangan
Meski tampak menguntungkan, beauty privilege juga menciptakan masalah serius:
Tekanan sosial untuk selalu tampil sempurna, terutama pada perempuan.
Objektifikasi, di mana individu dinilai semata-mata dari penampilan.
Diskriminasi terbalik, yakni mengabaikan kualitas orang karena dianggap kurang menarik.
Ekspektasi berlebihan terhadap orang menarik, seolah mereka harus selalu sempurna.
Menuju Kesadaran Baru: Menggeser Fokus dari Wajah ke Nilai Diri
Makin banyak kampanye yang mendorong inklusivitas kecantikan dan penghargaan terhadap kapasitas, bukan hanya penampilan. Brand besar mulai menggandeng model dengan beragam bentuk tubuh, warna kulit, hingga kondisi fisik berbeda untuk menantang standar ideal yang lama.
Organisasi dan tempat kerja juga mulai menerapkan pendekatan netral dalam rekrutmen—seperti menyembunyikan foto saat seleksi awal dan lebih menekankan portofolio atau keterampilan nyata.
Kesimpulan: Bukan Ilusi, Tapi Bukan Juga Tak Terkendali
Beauty privilege memang nyata dalam banyak aspek kehidupan, namun bukan berarti semua hal bergantung pada wajah semata. Kesadaran publik terhadap fenomena ini penting untuk membangun masyarakat yang lebih adil, di mana penampilan bukan satu-satunya tiket menuju kesuksesan.
Wajah memang bisa memberi kesan pertama—tapi karakter, kerja keras, dan nilai diri tetaplah yang menentukan langkah selanjutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
