Fenomena Pertemanan Toxic: Ketika Hubungan Dekat Justru Menguras Emosi
ilustrasi-foto:Ist-
RADARTVNEWS.COM, Istilah “pertemanan toxic”semakin sering terdengar, terutama di media sosial. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa tidak semua teman dekat memberi dampak positif. Beberapa justru membuat stres, merasa rendah diri, atau kehilangan kepercayaan diri.
Pertemanan toxic biasanya ditandai dengan perilaku seperti meremehkan, memanfaatkan, membanding-bandingkan, hingga memanipulasi secara halus. Sayangnya, karena hubungan ini sering terjalin sejak lama atau terasa dekat secara emosional, banyak orang sulit menyadari bahwa mereka sedang terjebak di dalamnya.
Di TikTok dan Instagram, banyak konten kreator membagikan pengalaman mereka keluar dari lingkaran pertemanan yang tidak sehat. Tagar seperti #ToxicFriendship dan #CutThemOff ramai digunakan. Banyak pula yang menyarankan langkah sederhana seperti membatasi komunikasi, menetapkan batasan, atau bahkan berani mengakhiri hubungan tersebut demi kesehatan mental.
Beberapa pengguna juga menyoroti bahwa pertemanan toxic tidak selalu terlihat kasar, bisa saja datang dalam bentuk candaan yang menjatuhkan, sikap posesif, atau perlakuan dingin yang membuat tidak nyaman.
Mengapa Ini Penting?
Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kesadaran anak muda akan pentingnya hubungan sosial yang sehat. Bukan hanya soal jumlah teman, tapi kualitas hubungan juga jadi perhatian. Banyak orang mulai berani memilih lingkungan yang mendukung dan tidak takut kehilangan demi kedamaian diri sendiri.
BACA JUGA:Toxic Positivity: Bahaya Selalu Berpura-pura Good Vibes Only
Pertemanan seharusnya menjadi ruang yang aman dan menyenangkan. Jika sebuah hubungan justru membuatmu merasa buruk tentang diri sendiri, itu mungkin saatnya mengevaluasi. Di era digital ini, anak muda tidak hanya berani menyuarakan pengalaman mereka, tapi juga menginspirasi orang lain untuk lebih peduli pada kesehatan mental lewat hubungan sosial yang sehat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
