Satelit NASA Deteksi Peningkatan Karbon Monoksida di Langit Indonesia

Jumat 16-10-2026,14:52 WIB
Reporter : MG - Puja Yana
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM – Pemantauan satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan peningkatan konsentrasi karbon monoksida (CO) di atmosfer wilayah Indonesia dan sekitarnya selama periode 16 September hingga 15 Oktober 2026.

Berdasarkan visualisasi satelit tersebut, sebaran karbon monoksida ditandai dengan warna merah pekat hingga cokelat yang menutupi sebagian wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Sebaran itu juga meluas ke kawasan Asia Tenggara hingga Samudra Hindia.

Informasi tersebut diangkat oleh akun media sosial Tirto.id berdasarkan pemantauan satelit NASA. Peta ini memberikan gambaran mengenai persebaran karbon monoksida di atmosfer dalam rentang waktu pengamatan tersebut.

Warna Peta Menunjukkan Tingkat Konsentrasi CO

Dalam keterangan NASA, warna pada peta digunakan untuk menunjukkan perbedaan konsentrasi karbon monoksida. Area berwarna oranye dan merah menandakan konsentrasi yang lebih tinggi, sedangkan warna biru dan ungu menunjukkan konsentrasi yang lebih rendah.

Meski demikian, NASA menjelaskan bahwa data tersebut menggambarkan sebaran CO di atmosfer pada ketinggian sekitar 18.000 kaki atau 5,5 kilometer di atas permukaan bumi. Dengan demikian, visualisasi itu bukan pengukuran langsung kadar karbon monoksida yang dihirup masyarakat di permukaan tanah.

Perbedaan ketinggian pengamatan ini penting untuk dipahami agar peta satelit tidak ditafsirkan sebagai gambaran langsung tingkat pencemaran udara di wilayah permukiman.

Pembakaran Tidak Sempurna Menjadi Sumber CO

Karbon monoksida di lapisan troposfer umumnya berasal dari proses pembakaran tidak sempurna dalam skala besar. Gas ini dapat terbentuk ketika bahan bakar atau material yang mengandung karbon tidak terbakar secara sempurna.

Pemantauan dari luar angkasa, termasuk melalui instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit NASA, membantu peneliti mengamati persebaran gas di atmosfer dalam wilayah yang luas.

Data tersebut dapat dimanfaatkan oleh peneliti dan otoritas lingkungan untuk mempelajari pergerakan polusi lintas batas atau transboundary pollution. Informasi ini juga membantu kajian mengenai hubungan pencemaran udara dengan kualitas lingkungan serta siklus iklim global.

Pemantauan satelit menjadi salah satu sarana untuk memahami pola persebaran polutan di atmosfer. Namun, untuk mengetahui kondisi udara yang benar-benar dihirup masyarakat, data satelit perlu dibedakan dari hasil pengukuran kualitas udara di permukaan bumi.(*)

Kategori :