Sering Minum Manis? dr. Gia Pratama Peringatkan Risiko Diabetes dan Komplikasi Mematikan

Selasa 04-08-2026,19:51 WIB
Reporter : MG - MIKAIL
Editor : Jefri Ardi

RADARNEWS.COM - Kebiasaan mengonsumsi minuman dan makanan manis ternyata menyimpan risiko kesehatan yang kerap diabaikan. Dokter sekaligus Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD), dr. Gia Pratama, mengingatkan bahwa jumlah gula yang secara normal beredar dalam darah manusia sebenarnya sangat sedikit, sehingga kelebihan asupan gula dapat membebani kerja tubuh apabila terjadi terus-menerus.

Dalam penjelasannya, dr. Gia menyebutkan bahwa tubuh manusia dengan volume darah sekitar 5 liter hanya mengandung sekitar 5 gram glukosa pada kadar gula darah normal. Jumlah tersebut setara dengan kurang lebih satu sendok teh gula.

Fakta ini menjadi perhatian karena banyak minuman manis yang beredar di pasaran mengandung 12 hingga 30 gram gula tambahan dalam satu sajian. Artinya, sekali mengonsumsi satu gelas minuman manis, tubuh harus bekerja keras untuk mengatur kelebihan gula yang masuk ke dalam aliran darah.

Menurut dr. Gia, ketika kadar gula darah meningkat setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman manis, pankreas akan memproduksi hormon insulin. Hormon ini berfungsi membantu memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi atau disimpan dalam bentuk cadangan, termasuk lemak.

Namun, apabila kebiasaan mengonsumsi gula berlebih berlangsung terus-menerus, pankreas akan dipaksa bekerja lebih keras dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan fungsi produksi insulin atau resistensi insulin, yang menjadi salah satu faktor utama berkembangnya diabetes melitus tipe 2.

Dr. Gia mengingatkan bahwa diabetes bukan sekadar penyakit dengan kadar gula darah tinggi. Apabila tidak dikendalikan, penyakit ini dapat memicu berbagai komplikasi serius yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Beberapa komplikasi yang paling sering terjadi antara lain gagal ginjal, gangguan penglihatan hingga kebutaan, penyakit jantung, stroke, kerusakan saraf, serta luka yang sulit sembuh dan pada kondisi tertentu dapat berujung pada tindakan amputasi.

Ia menggambarkan kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan sebagai sebuah ancaman yang bekerja perlahan.

"Mengonsumsi gula berlebih ibarat memasang bom waktu dalam tubuh. Efeknya memang tidak langsung terasa, tetapi dampaknya bisa sangat serius di kemudian hari," ujar dr. Gia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga maksimal 50 gram per hari, dan akan lebih baik jika tidak melebihi sekitar 25 gram per hari untuk memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal. Dalam praktiknya, satu botol atau satu gelas minuman kemasan manis saja dapat menyumbang sebagian besar dari batas konsumsi harian tersebut.

Karena itu, dr. Gia mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat. Langkah sederhana seperti mengurangi konsumsi minuman manis, membaca informasi kandungan gula pada label kemasan, memperbanyak minum air putih, serta memperbanyak konsumsi makanan alami dapat membantu menurunkan risiko penyakit metabolik.

Ia juga mengimbau masyarakat, terutama yang memiliki riwayat diabetes dalam keluarga atau faktor risiko lain, agar rutin memeriksa kadar gula darah sebagai bagian dari upaya deteksi dini.

Menurutnya, pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan mengobati penyakit yang telah berkembang menjadi komplikasi. Dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, dan kesadaran untuk membatasi konsumsi gula tambahan, risiko diabetes dapat ditekan sejak dini.

Tag: dr. Gia Pratama, diabetes, gula darah, bahaya gula, kesehatan, WHO

Long Tail Keyword:

Kategori :