RADARTVNEWS.COM - Seblak telah bertransformasi dari sekadar jajanan kaki lima menjadi tren kuliner yang digemari berbagai kalangan.
Sensasi pedas yang membakar lidah dipadukan dengan tekstur kerupuk basah yang kenyal memang memberikan kepuasan tersendiri, terutama bagi para pencinta makanan pedas.
Namun, di balik popularitasnya, tersimpan berbagai risiko kesehatan yang serius jika makanan ini dikonsumsi secara terus-menerus.
Berikut adalah dampak negatif konsumsi seblak yang berlebihan terhadap tubuh:
1. Gangguan Pencernaan Akut dan Kronis
Daya tarik utama seblak terletak pada level pedasnya yang ekstrem. Penggunaan cabai atau bubuk cabai dalam jumlah besar mengandung senyawa capsaicin yang dapat mengiritasi lapisan lambung dan usus. Konsumsi rutin dapat memicu gastritis(peradangan dinding lambung), asam lambung naik (GERD), hingga luka pada usus.
BACA JUGA: Jangan Tunggu Terlambat! Ini Penyebab Rem Mobil Tiba-Tiba Blong
Dalam jangka pendek, Anda mungkin hanya merasakan mulas atau diare, namun dalam jangka panjang, ini bisa merusak sistem pencernaan secara permanen.
2. Lonjakan Natrium dan Risiko Hipertensi
Bumbu seblak identik dengan penggunaan garam, penyedap rasa (MSG), dan kaldu instan yang sangat tinggi. Satu porsi seblak sering kali mengandung kadar natrium yang mendekati atau bahkan melebihi batas harian orang dewasa.
Tingginya natrium menyebabkan tubuh menahan cairan, yang meningkatkan beban kerja jantung dan tekanan darah. Jika menjadi kebiasaan, risiko terkena hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan ginjal akan meningkat drastis.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi (Kalori Kosong)
Sebagian besar komposisi seblak terdiri dari karbohidrat olahan, seperti kerupuk aci, makaroni, mi, dan cilok. Bahan-bahan ini memiliki indeks glikemik tinggi yang cepat meningkatkan kadar gula darah namun rendah serat, vitamin, dan mineral.
Mengonsumsi seblak sebagai pengganti makanan utama membuat tubuh kekurangan nutrisi penting. Selain itu, asupan karbohidrat berlebih ini sangat mudah diubah menjadi lemak tubuh, yang berujung pada obesitas.
4. Paparan Bahan Tambahan Pangan Sintetis