No Viral No Justice, Ketika Suara Korban Jadi Konsumsi Publik

Rabu 29-04-2026,19:13 WIB
Reporter : MG - Tri Suci Sandrika
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM - Kalimat “no viral no justice” makin sering terdengar belakangan ini. Banyak orang mulai merasa bahwa sebuah kasus baru akan ditangani serius kalau sudah ramai dibicarakan. Tapi pertanyaannya, apakah semua yang viral benar-benar membawa keadilan?

Awalnya, viral memang sering jadi cara untuk mengangkat isu. Kasus yang tadinya tidak terdengar bisa jadi perhatian publik. Dukungan berdatangan, tekanan ke pihak berwenang meningkat, dan harapannya, keadilan bisa lebih cepat didapat. Di titik ini, viral bisa jadi alat yang kuat.

Masalahnya, tidak semua berhenti di situ. Banyak konten yang kemudian berubah arah. Judul dibuat semakin heboh, potongan video dipilih yang paling dramatis, dan emosi dijadikan daya tarik utama. Isu yang seharusnya sensitif justru dikemas seperti tontonan. Pelan-pelan, fokusnya bergeser, bukan lagi pada keadilan, tapi pada seberapa besar perhatian yang bisa didapat.

Di balik semua itu, ada korban yang sedang berusaha pulih. Ada pengalaman yang tidak mudah untuk diceritakan, apalagi di depan publik. Ketika cerita itu terus diputar, dibahas, bahkan dikomentari oleh banyak orang yang tidak benar-benar tahu situasinya, luka yang belum selesai bisa terasa seperti dibuka kembali.

Belakangan ini juga muncul banyak konten, termasuk podcast, yang menghadirkan korban kekerasan seksual secara langsung. Tidak sedikit yang membagikan cerita dengan detail yang cukup dalam. Sekilas terlihat seperti ruang untuk bersuara, tapi di sisi lain, ada risiko yang tidak kecil. Apalagi jika korban belum benar-benar siap, atau tidak sepenuhnya paham dampak dari cerita yang dibagikan ke publik.

Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa di Indonesia, mencari keadilan memang tidak selalu mudah. Banyak korban yang ketika berani melapor justru dihadapkan pada pertanyaan yang menyudutkan. Ditanya kenapa tidak melawan, kenapa ada di tempat itu, bahkan hal-hal pribadi seperti cara berpakaian ikut dipersoalkan. Situasi seperti ini membuat banyak korban merasa tidak aman, bahkan saat mencoba mencari bantuan.

Tidak heran kalau akhirnya media jadi pilihan untuk speak up. Setidaknya, di sana ada ruang untuk didengar. Tapi ruang ini juga perlu dijaga. Jangan sampai yang seharusnya jadi tempat aman justru berubah jadi panggung yang memperbesar asumsi publik dan memperpanjang trauma yang ada.

Kalau seseorang memilih untuk berbicara lewat media, itu adalah hal yang valid. Tapi ada beberapa hal yang perlu benar-benar diperhatikan. Menghindari detail yang terlalu eksplisit bisa jadi salah satu cara menjaga batas. Fokus pada pelaku dan sistem juga penting, supaya perhatian tidak justru beralih ke luka korban. Selain itu, memastikan korban benar-benar siap untuk bercerita juga tidak kalah penting, tanpa tekanan atau dorongan dari pihak lain.

Perlindungan identitas juga harus jadi prioritas, apalagi kalau korban masih anak-anak. Dalam banyak kasus, dampak jejak digital bisa berlangsung sangat lama, bahkan setelah isu tersebut sudah tidak lagi ramai dibicarakan.

Yang sering terlupa, tujuan utama dari semua ini seharusnya adalah pemulihan dan keadilan. Bukan sekadar angka penonton, komentar, atau seberapa cepat sebuah konten menyebar. Karena cerita korban bukan bahan konsumsi publik. Itu bagian dari hidup seseorang yang seharusnya dijaga dan dihormati dengan empati.

BACA JUGA: Dari Verbal sampai Digital, Ini Bentuk Pelecehan Seksual yang Sering Tidak Disadari

Kategori :