RADARTVNEWS.COM - Peringatan Hari Kartini selalu menjadi momen refleksi tentang peran perempuan dalam berbagai bidang, termasuk industri musik. Di tengah semangat itu, kemunculan girl group No Na terasa relevan untuk dibicarakan sebagai representasi “Kartini masa kini”.
Meski rilisan terbaru mereka tidak secara khusus dibuat untuk memperingati Hari Kartini, momentum ini seolah menjadi waktu yang tepat untuk melihat bagaimana perempuan Indonesia hari ini menunjukkan eksistensinya di panggung global. Salah satunya melalui karya musik yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga membawa identitas budaya sendiri.
Single terbaru mereka berjudul Rollerblade resmi dirilis pada April 2026. Lagu ini langsung menarik perhatian karena memadukan berbagai elemen musik yang tidak biasa. Tidak hanya mengusung energi pop modern dan reggaeton, lagu ini juga menghadirkan sentuhan khas Indonesia seperti gamelan dan dangdut.
Menariknya, penggunaan bahasa Indonesia dalam lirik menjadi salah satu daya tarik utama. Di tengah dominasi bahasa Inggris dalam industri musik global, langkah ini terasa berani sekaligus strategis. Hal ini memperkuat identitas No Na sebagai grup yang tidak meninggalkan akar budayanya, meski berkiprah di level internasional.
BACA JUGA: Kartini Masa Kini: Tiga Atlet Indonesia Buktikan Hamil Bukan Halangan Raih Emas SEA Games 2025
Tidak hanya dari sisi audio, konsep visual “Rollerblade” juga memperlihatkan karakter kuat. Teaser yang dirilis sebelumnya menampilkan energi muda, koreografi tajam, serta visual yang dinamis. Elemen ini menjadi ciri khas No Na sejak debut mereka.
Sebagai girl group global pertama dari Indonesia, No Na memang sejak awal membawa misi besar. Mereka ingin memperkenalkan budaya Indonesia ke audiens yang lebih luas. Hal ini terlihat dari berbagai karya sebelumnya yang menampilkan lanskap alam Indonesia hingga elemen budaya lokal dalam produksi musik mereka.
BACA JUGA: Musik sebagai Teman Saat Belajar dan Bekerja
Jika ditarik ke konteks Hari Kartini, apa yang dilakukan No Na bisa dimaknai sebagai bentuk emansipasi modern. Jika dulu Raden Ajeng Kartini berjuang melalui tulisan dan pemikiran, kini perempuan seperti No Na menyuarakan identitas dan keberanian melalui karya kreatif di industri global.
Perilisan lagu “Rollerblade” menjadi momentum bagaimana perempuan Indonesia bisa tampil percaya diri, eksploratif, dan tetap berakar pada budaya sendiri. Perpaduan antara global culture dan local identity menjadi bukti bahwa karya dari Indonesia mampu bersaing tanpa kehilangan jati diri.
Momentum Hari Kartini akhirnya tidak hanya menjadi perayaan historis, tetapi juga refleksi masa kini. Bahwa perjuangan perempuan terus berlanjut, dengan cara yang berbeda. (*)