Cancel Culture dalam Drama Perselingkuhan TikToker, Seberapa Cepat Netizen Menghakimi?

Jumat 27-02-2026,13:35 WIB
Reporter : MG- Nasywa Nayla Afany
Editor : Reki. M

RADARTVNEWS.COM – Media sosial seolah tak pernah benar-benar sepi dari perbincangan. Saat suasana linimasa mulai terasa tenang, tiba-tiba muncul lagi satu nama yang jadi topik hangat.

Kali ini, perhatian publik tertuju pada selebritas TikTok, Julia Prastini atau yang akrab disapa Jule. Dugaan perselingkuhan yang menyeret namanya menyebar cepat dan langsung memancing beragam reaksi dari warganet.

Awalnya, sejumlah foto dan video yang memperlihatkan kedekatan Jule dengan seorang pria beredar luas di Instagram dan TikTok. Dalam waktu singkat, kolom komentar berubah seperti ruang sidang terbuka.

Berbagai dugaan bermunculan, opini berkembang tanpa jeda, dan nama Jule pun mendadak menjadi trending.

Di tengah riuhnya perbincangan itu, istilah cancel culture kembali ramai dibahas. Fenomena ini merujuk pada tindakan kolektif untuk menarik dukungan, berhenti mengikuti, hingga memboikot seseorang yang dianggap melakukan kesalahan.

Dalam kasus Jule, dampaknya tak berhenti pada komentar tajam. Beberapa merek yang sebelumnya bekerja sama dengannya disebut memilih menghentikan kolaborasi demi menjaga citra di mata publik.

Menariknya, reaksi publik tak sepenuhnya satu arah. Di tengah kritik yang mengarah pada Jule, banyak juga simpati mengalir kepada sang suami, Na Daehoon.

Ia dipandang sebagai sosok yang tegar menghadapi badai persoalan rumah tangga yang kini jadi konsumsi publik. Dari sini terlihat bahwa cancel culture sering kali menciptakan “pihak yang dijatuhkan” sekaligus “pihak yang diangkat”.

Perbincangan semakin meluas ketika Jule diketahui menghapus nama anaknya dari bio Instagram. Sebagian warganet menilai langkah itu kurang tepat dan memicu kritik tambahan.

Meski begitu, publik tentu tidak mengetahui sepenuhnya alasan pribadi di balik keputusan tersebut. Di era media sosial, batas antara ranah privat dan konsumsi publik memang terasa makin tipis.

Fenomena seperti ini bahkan mulai dibahas di sejumlah ruang kelas sebagai contoh nyata bagaimana viralitas bekerja di era digital.

Sekali isu menyebar, pihak yang terlibat kerap kesulitan mengendalikan narasi. Opini publik terlontar sangat cepat, bahkan sering kali mendahului klarifikasi.

Lantas, apa yang bisa dipelajari dari situasi ini?

Cancel culture memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia dapat menjadi bentuk kontrol sosial, cara masyarakat menegaskan nilai dan batas moral. Namun di sisi lain, ketika kritik berubah menjadi hujatan tanpa empati, ruang untuk refleksi dan perbaikan diri menjadi semakin sempit.

Kasus Jule mungkin hanya satu dari banyak drama yang silih berganti di media sosial. Namun setiap kali kita ikut berkomentar, membagikan ulang, atau sekadar membaca dengan emosi, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang menyuarakan nilai, atau justru memperkeruh suasana?

Kategori :