Pemanasan Global Ancam Es Kutub dan Gletser, Dampaknya Bisa Bertahan Ribuan Tahun

Pemanasan Global Ancam Es Kutub dan Gletser, Dampaknya Bisa Bertahan Ribuan Tahun

Pencairan lapisan es di Greenland menjadi salah satu dampak perubahan iklim yang mengancam keseimbangan lingkungan global.--Ilustrasi

RADARTVNEWS.COM – Ancaman perubahan iklim terhadap wilayah es dunia semakin mengkhawatirkan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kenaikan suhu global yang melampaui batas 1,5 derajat Celsius dapat menyebabkan kerusakan permanen pada gletser, lapisan es kutub, hingga ekosistem laut.

Peringatan tersebut tertuang dalam laporan yang disusun sekitar 80 ilmuwan bersama International Cryosphere Climate Initiative (ICCI) dan United Nations Environment Programme (UNEP). Laporan tersebut menjelaskan bahwa dampak pemanasan global tidak selalu dapat dipulihkan meskipun suhu bumi nantinya berhasil diturunkan kembali.

Saat ini, suhu bumi telah meningkat sekitar 1,3 derajat Celsius dibandingkan masa sebelum revolusi industri. Kondisi tersebut membuat wilayah yang dikenal sebagai cryosphere, yaitu bagian bumi yang terdiri dari salju dan es, semakin rentan mengalami perubahan.

Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika. Kedua wilayah tersebut dilaporkan kehilangan es sekitar enam kali lebih cepat dibandingkan pada era 1990-an.

Pencairan es tidak hanya berdampak pada wilayah kutub. Bertambahnya volume air laut dapat meningkatkan permukaan laut dan mengancam masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Selain itu, mencairnya lapisan tanah beku atau permafrost berpotensi melepaskan gas rumah kaca yang semakin memperburuk pemanasan global.

Dampak lainnya juga dapat dirasakan di kawasan Pegunungan Himalaya Hindu Kush. Wilayah tersebut menjadi sumber air bagi hampir seperempat populasi dunia. Jika pemanasan global terus berlangsung sesuai kebijakan saat ini, cadangan es gletser di kawasan tersebut diperkirakan hanya tersisa sekitar 41 persen.

Sebaliknya, apabila kenaikan suhu dapat dibatasi hingga 1,5 derajat Celsius, cadangan es diperkirakan masih dapat dipertahankan hingga 83 persen.

Para ilmuwan menegaskan bahwa kerusakan pada sejumlah sistem es membutuhkan waktu berabad-abad hingga ribuan tahun untuk pulih. Karena itu, pengurangan emisi gas rumah kaca dinilai menjadi langkah penting untuk memperlambat kerusakan lingkungan dan menjaga ketersediaan sumber air bagi generasi mendatang.

Laporan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan meningkatnya suhu udara, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekosistem dan kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: