Buruh Pelabuhan Bertahan Bekerja di Tengah Kabut Asap, Keluhan Tak Digubris

Buruh Pelabuhan Bertahan Bekerja di Tengah Kabut Asap, Keluhan Tak Digubris

Kabut asap akibat karhutla tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mengancam kesehatan dan menambah beban biaya pengobatan keluarga terdampak.--

RADARTVNEWS.COM - Kabut asap yang menyelimuti kawasan pelabuhan menjadi tantangan tersendiri bagi para buruh yang harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Di tengah kondisi udara yang tercemar, aktivitas bongkar muat dan pekerjaan lainnya tetap harus dijalankan. 

Situasi ini memunculkan keresahan di kalangan pekerja yang harus menghadapi risiko kesehatan, sementara keluhan mereka dinilai belum mendapat solusi yang diharapkan.

Dilansir dari Kompas.com, Kamis (22/10/2026), Iyan buruh bongkar muat di Pelabuhan Mentaya, Sampit, mengaku keluarganya ikut terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Selama kabut asap menyelimuti wilayah tersebut, istri dan anak-anaknya mengalami gangguan kesehatan hingga harus menjalani pengobatan dengan biaya sendiri.

“Anakku sama istri kena imbas, dari segi ekonomi jelas rugi, kesehatan terganggu, anak-anak dan istri sakit dan pengobatan harus pakai biaya sendiri,” ujar Iyan.

Ayah lima anak itu mengatakan, keluarganya mengalami demam hingga sesak napas selama kabut asap berlangsung. 

Kondisi tersebut membuat pengeluaran rumah tangganya bertambah karena ia harus menanggung biaya pengobatan secara mandiri tanpa menggunakan BPJS Kesehatan.

BACA JUGA:Susanti Upin Ipin Serukan Dukungan untuk Korban Karhutla Kalimantan

Menurut Iyan, keputusan untuk berobat langsung ke dokter diambil karena keluarganya membutuhkan penanganan segera. 

Ia khawatir kondisi kesehatan mereka semakin memburuk apabila harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pelayanan medis.

“Kalau pakai BPJS, kadang-kadang antreannya panjang tidak ketulungan, sedangkan kan penyakit demam, nggak bisa dibiarkan lama-lama, ya harus ke dokter,” katanya.

Iyan mengungkapkan, kondisi tersebut telah berlangsung selama kurang lebih empat bulan. 

Meski harus menghadapi dampak kabut asap terhadap kesehatan keluarga dan kondisi ekonomi, ia mengaku hanya bisa berusaha bertahan di tengah situasi yang belum kunjung membaik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: kompas.com