Darurat Karhutla Indonesia, Ini Fakta dan Dampaknya bagi Lingkungan
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi perhatian karena berdampak pada lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kualitas udara.--
RADARTVNEWS.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia sepanjang 2026.
Kebakaran yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Dilansir dari Viva.co.id, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengklarifikasi data kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 663 hektare yang menjadi sorotan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa enam provinsi yang dimaksud meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan (Sumsel), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
”Jadi per hari kemarin, hari ini kami laporkan bahwa ada 663 hektar lahan gambut yang saat ini terbakar,” katanya, Rabu (14/10/2026).
BACA JUGA:WMO Sebut Kabut Asap Karhutla Indonesia Salah Satu yang Terburuk di Asia Tenggara
Data tersebut bersumber dari Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) dan laporan petugas di lapangan.
Sumber yang sama juga digunakan dalam laporan yang disampaikan Letjen Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas pada Senin (12/10/2026).
Dalam laporan tersebut, total lahan yang masih terbakar di enam provinsi prioritas tercatat seluas 639,23 hektare.
Ratusan Ribu Kasus ISPA Tercatat akibat Karhutla
Dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan.
Dilansir dari Bisnis.com, Sabtu 17 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak karhutla selama periode Agustus hingga 13 Oktober 2026.
Dari total tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak-anak berusia 0–5 tahun, sedangkan 219.559 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: viva.co.id