BMKG: Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Datang Lebih Lambat dan Lebih Singkat
Prrediksi Cuaca yang di Sampaikan Dalam Press Conference BMKG-BMKG-Instagram
JAKARTA, RADARTVNEWS.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia. Selain mengalami kemunduran, durasi musim hujan di sejumlah wilayah diperkirakan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan publikasi resmi BMKG pada 2 Oktober 2026, awal musim hujan diprediksi mundur di 529 zona musim (ZOM) yang mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia. Sementara itu, musim hujan di 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia diperkirakan berlangsung lebih singkat dari normalnya.
Mengapa musim hujan datang lebih lambat?
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat serta kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) berdampak pada berkurangnya curah hujan. Penjelasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers prediksi musim hujan pada 22 September 2026.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal, dikutip dari siaran pers resmi BMKG.
Dalam pembaruan prediksi pada 2 Oktober 2026, BMKG menyebut kondisi El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
BACA JUGA:Cuaca Lampung Terasa Menyengat hingga Malam, Ini Penjelasan Ahli Klimatologi
Awal musim hujan tidak berlangsung serentak
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa awal musim hujan di Indonesia terjadi secara bertahap, bukan bersamaan di seluruh wilayah.
Pada November 2026, sebanyak 185 ZOM yang mencakup 24,66 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai memasuki musim hujan. Berikutnya, pada Desember 2026, awal musim hujan diperkirakan terjadi di 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan Indonesia.
Wilayah yang diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November antara lain sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Maluku. Adapun pada Desember, cakupannya antara lain sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.
Lebih singkat, akumulasi hujan tetap diprediksi normal di banyak wilayah
Durasi musim hujan yang lebih pendek tidak berarti seluruh wilayah akan menerima akumulasi hujan di bawah normal. BMKG memprediksi akumulasi curah hujan selama musim hujan berada dalam kategori normal atau mendekati rata-rata klimatologis di 510 ZOM, yang mencakup 69,76 persen luas daratan Indonesia.
Sementara itu, 147 ZOM atau 18,55 persen luas daratan Indonesia diprediksi memiliki sifat hujan di atas normal. BMKG menyebut wilayah-wilayah tersebut perlu mendapat perhatian meskipun secara umum musim hujan diperkirakan berlangsung lebih singkat.
Puncak musim hujan juga diprediksi berbeda antarwilayah. Pada Desember 2026, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di 155 ZOM, kemudian Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM.
BMKG ingatkan kesiapan drainase dan antisipasi bencana
Menghadapi perubahan waktu dan durasi musim hujan, BMKG mengingatkan pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengoptimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi guna mengantisipasi banjir maupun longsor pada awal serta puncak musim hujan.
BMKG juga mengimbau seluruh pihak memanfaatkan informasi prediksi musim sebagai dasar perencanaan langkah antisipasi. Untuk kebutuhan informasi yang lebih rinci sesuai kondisi wilayah, masyarakat dan instansi terkait disarankan berkonsultasi dengan kantor BMKG terdekat.
Masyarakat diminta mengikuti informasi cuaca dan iklim melalui saluran resmi BMKG agar tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: bmkg