Nggak Bisa Dipakai Sembarangan, Ternyata Batik Parang Punya Sejarah Eksklusif
batik parang--pinterest
RADARTVNEWS.COM — Batik Parang menjadi salah satu motif batik tradisional yang memiliki sejarah panjang dalam budaya Jawa. Di balik pola diagonal menyerupai ombak yang khas, motif ini pernah menjadi bagian dari aturan berpakaian di lingkungan keraton, dengan ketentuan penggunaan yang disesuaikan berdasarkan kedudukan pemakainya.
Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh sejarah di balik motif yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai busana tradisional maupun modern tersebut.
Mengutip informasi dari Museum Sonobudoyo Yogyakarta, kata parang berasal dari kata pereng yang berarti lereng atau tebing. Istilah ini berkaitan dengan bentuk motifnya yang tersusun secara diagonal. Dalam perkembangannya, Batik Parang memiliki beragam variasi dan makna filosofis yang berkaitan dengan kekuatan, keberanian, serta semangat yang tidak mudah menyerah.
Sejarah Batik Parang juga berkaitan erat dengan tradisi Kesultanan Mataram. Pada masa kerajaan, batik tidak hanya berfungsi sebagai pakaian atau hiasan kain, tetapi juga menjadi penanda identitas dan kedudukan sosial. Karena itu, sejumlah motif memiliki aturan penggunaan tersendiri, termasuk Batik Parang.
Salah satu fakta menariknya, motif Parang Rusak termasuk dalam kategori batik larangan di lingkungan Keraton Yogyakarta. Berdasarkan catatan Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I menetapkan Parang Rusak sebagai salah satu motif larangan pada 1785. Ketentuan mengenai penggunaan motif batik di lingkungan keraton kemudian turut diatur dalam Rijksblad van Djokjakarta tahun 1927, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Aturan tersebut mengatur penggunaan motif berdasarkan jenis, ukuran pola, serta kedudukan pemakainya. Sebagai contoh, motif Parang Rusak Barong dengan ukuran tertentu dikhususkan bagi sultan dan putra mahkota. Ketentuan ini memperlihatkan bahwa pada masa itu, pemilihan motif batik bukan sekadar persoalan selera berpakaian, melainkan juga berkaitan dengan tata aturan dan hierarki di lingkungan keraton.
Selain sejarah penggunaannya, Batik Parang memiliki cerita mengenai asal-usul bentuk motifnya. Salah satu kisah menghubungkan motif ini dengan Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram, yang konon mendapatkan inspirasi dari gerakan ombak Laut Selatan ketika menghantam karang di tepi pantai. Gerakan ombak yang terus berulang tersebut kemudian dikaitkan dengan pola lengkung yang tersusun secara diagonal pada kain Batik Parang. Kisah ini menjadi salah satu penuturan yang berkembang dalam tradisi mengenai asal-usul motif tersebut.
Bentuknya juga kerap dikaitkan dengan pedang, yang melambangkan kekuatan dan keberanian. Secara filosofis, susunan motif yang berulang dimaknai sebagai pengingat agar manusia terus berusaha, memiliki keteguhan hati, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Seiring perkembangan zaman, Batik Parang tetap digunakan dalam berbagai bentuk busana, mulai dari kain tradisional hingga pakaian dengan desain modern. Meski memiliki sejarah sebagai motif larangan di lingkungan keraton, pembatasan tersebut tidak berarti masyarakat umum dilarang mengenakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada peringatan Hari Batik Nasional, mengenal Batik Parang bukan hanya tentang mengapresiasi keindahan pola kain tradisional. Sejarah dan filosofi di balik motifnya juga memperlihatkan bagaimana batik menyimpan nilai budaya, tradisi, serta gambaran kehidupan sosial masyarakat Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
BACA JUGA:Batik Tampil di The Sinquefield di St. Louis Amerika Serikat
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: