Mirip Kalajengking, Ketonggeng Tak Berbisa dan Punya Pertahanan Beraroma Cuka

Mirip Kalajengking, Ketonggeng Tak Berbisa dan Punya Pertahanan Beraroma Cuka

--

RADARTVNEWS.COM — Sekilas, ketonggeng terlihat seperti kalajengking dengan tubuh gelap, capit besar, dan ekor panjang menyerupai cambuk. Namun, hewan yang termasuk kelompok arachnida ini ternyata tidak memiliki sengat maupun bisa seperti kalajengking.

Ketonggeng atau dikenal juga sebagai kalajengking cambuk memiliki bentuk tubuh yang cukup membuat orang salah mengira. Bagian ekornya yang panjang dan tipis bukanlah alat penyengat, melainkan struktur seperti cambuk yang menjadi salah satu ciri khas hewan tersebut.

Meski tidak berbisa, ketonggeng tetap mempunyai mekanisme pertahanan yang unik. Ketika merasa terancam, hewan ini dapat menyemprotkan cairan dari bagian belakang tubuhnya. Cairan tersebut mengandung asam asetat dan memiliki aroma yang sangat mirip dengan cuka.

Kemampuan tersebut membuat ketonggeng dikenal dengan nama vinegaroon. Aroma cuka yang kuat berasal dari kandungan asam asetat dalam cairan pertahanannya. Semprotan tersebut digunakan untuk mengusir predator yang dianggap mengancam keberadaannya.

Cairan yang dikeluarkan ketonggeng umumnya tidak dianggap berbahaya bagi manusia, tetapi tetap dapat menyebabkan iritasi, terutama jika mengenai mata atau bagian tubuh yang sensitif. Karena itu, hewan ini sebaiknya tidak diganggu atau disentuh secara langsung.

Selain memiliki pertahanan yang tidak biasa, ketonggeng juga mempunyai peran dalam ekosistem. Hewan ini merupakan predator yang memangsa berbagai hewan kecil seperti kecoak, jangkrik, rayap, laba-laba, dan beberapa jenis serangga lainnya.

Ketonggeng umumnya aktif pada malam hari dan mengandalkan indera peraba untuk mencari mangsa karena penglihatannya tergolong buruk. Keberadaannya dapat membantu mengendalikan populasi beberapa hewan kecil di lingkungan sekitarnya.

Penampilan yang menyeramkan ternyata tidak selalu menunjukkan bahwa sebuah hewan berbahaya. Ketonggeng menjadi salah satu contoh menarik bagaimana satwa mengembangkan mekanisme pertahanan yang berbeda untuk bertahan hidup di alam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: mongabay indonesia