Kamar Berantakan Bikin Stres? Ini yang Terjadi pada Tubuh
--
RADARTVNEWS.COM – Kamar berantakan sering dianggap hanya mengganggu pemandangan. Namun, kondisi lingkungan tempat tinggal ternyata dapat berkaitan dengan suasana hati dan respons stres seseorang.
Bagi sebagian orang, melihat pakaian menumpuk, meja penuh barang, hingga pekerjaan rumah yang belum selesai mungkin terasa biasa. Namun, penelitian menunjukkan bahwa cara seseorang memandang kondisi rumahnya dapat berhubungan dengan kondisi psikologis dan fisiologis.
Penelitian Darby E. Saxbe dan Rena Repetti yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin pada 2010 meneliti hubungan antara persepsi terhadap kondisi rumah, suasana hati, dan pola hormon kortisol. Penelitian tersebut melibatkan 60 pasangan suami-istri berpenghasilan ganda yang diminta melakukan tur mandiri di rumah mereka. Peneliti kemudian menganalisis kata-kata yang digunakan peserta untuk menggambarkan kondisi rumah, termasuk keberadaan barang yang berantakan dan kondisi rumah yang belum selesai.
Dalam penelitian tersebut, unsur seperti clutter atau barang yang berantakan dan kondisi rumah yang dianggap belum selesai digabungkan sebagai indikator yang menggambarkan rumah yang lebih “stressful”. Sementara itu, kata-kata yang menggambarkan suasana tenang dan unsur alam digunakan untuk menggambarkan rumah yang lebih “restorative”.
Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara persepsi terhadap rumah yang lebih stressful dengan pola kortisol harian tertentu pada peserta perempuan. Mereka yang memiliki skor lebih tinggi pada kategori tersebut menunjukkan pola penurunan kortisol harian yang lebih datar. Peneliti juga menemukan adanya peningkatan suasana hati depresif sepanjang hari pada kelompok tersebut. Sebaliknya, persepsi rumah yang lebih restoratif berkaitan dengan pola kortisol yang lebih curam dan perubahan suasana hati yang berbeda.
Kortisol sendiri merupakan salah satu hormon yang berkaitan dengan sistem respons stres tubuh. Karena itu, temuan penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa lingkungan rumah yang dipersepsikan sebagai penuh tekanan dapat memiliki keterkaitan dengan pengalaman psikologis dan respons fisiologis seseorang.
Meski demikian, penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kamar berantakan secara langsung menyebabkan stres. Studi tersebut melihat hubungan antara bagaimana peserta menggambarkan rumah mereka dengan pola kortisol dan suasana hati, sehingga faktor lain tetap mungkin berperan.
Beres-beres kamar karena itu bukan hanya soal membuat ruangan terlihat lebih rapi. Bagi sebagian orang, mengurangi tumpukan barang dan menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertunda dapat membuat lingkungan terasa lebih nyaman dan restoratif.
Pada akhirnya, kondisi kamar memang tidak otomatis menentukan tingkat stres seseorang. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa persepsi terhadap lingkungan tempat tinggal dapat menjadi bagian dari pengalaman psikologis sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: