Kenapa Kita Membutuhkan Batas untuk Bisa Merasa Bebas?
kenapa manusia membutuhkan batas untuk bisa merasa bebas dalam kehidupan sehari-hari-Pinterest-melmel
Ada kalanya aturan terasa seperti sesuatu yang paling ingin kita hindari. Kita ingin bebas menentukan kapan harus bangun, kapan belajar, kapan bekerja, bahkan kapan ingin berhenti sejenak dari semuanya. Kebebasan sering kali terasa seperti bisa menentukan semuanya sendiri tanpa ada orang yang ikut campur. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana jadinya jika benar-benar tidak ada aturan?
Tidak ada lampu merah di persimpangan, tidak ada antrean, tidak ada aturan di tempat kerja, dan tidak ada jadwal yang harus diikuti. Semua orang bebas melakukan apa saja sesuai keinginannya. Kedengarannya memang menyenangkan, tetapi kebebasan tanpa batas juga bisa membuat kehidupan menjadi berantakan. Di situlah muncul sebuah paradoks sederhana: manusia ingin bebas, tetapi pada saat yang sama membutuhkan batas.
Batas sebenarnya hadir hampir di setiap bagian kehidupan. Ketika seseorang berhenti di lampu merah, ia memang sedang dibatasi untuk tidak melaju, tetapi aturan itu juga memberi kesempatan kepada pengendara dari arah lain untuk bergerak. World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas berdasarkan data 2021. WHO juga menyebut kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia 5–29 tahun, sehingga berbagai aturan keselamatan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko di jalan.
Aturan lalu lintas dengan demikian bukan hanya tentang larangan berhenti atau kewajiban menggunakan jalur tertentu. Di balik batas tersebut ada kepentingan bersama yang ingin dijaga ketika banyak orang menggunakan ruang yang sama. Hal serupa sebenarnya bisa ditemukan dalam hal sederhana seperti antre. Tidak ada orang yang benar-benar senang menunggu ketika sedang terburu-buru, tetapi tanpa aturan untuk bergiliran, orang akan lebih mudah saling berebut tempat.
Dari situ terlihat bahwa batas tidak selalu dibuat untuk mengambil kebebasan seseorang. Dalam banyak situasi, batas justru dibutuhkan agar kebebasan satu orang tidak mengganggu kebebasan orang lain. Masalahnya menjadi lebih menarik ketika batas tersebut masuk ke kehidupan pribadi, terutama ketika seseorang mulai memasuki usia dewasa dan memiliki lebih banyak kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Nasi Kuning, Ini Alasan Tumpeng Jadi Simbol Perayaan di Indonesia
Tidak selalu ada orang tua yang mengingatkan kapan harus belajar dan tidak selalu ada guru yang mengecek tugas. Tidak selalu ada orang lain yang menentukan kapan seseorang harus beristirahat atau kapan harus berhenti melakukan sesuatu. Kebebasan seperti ini tentu menyenangkan karena keputusan berada di tangan sendiri. Namun, semakin besar kebebasan yang dimiliki, semakin besar pula kebutuhan untuk mengatur diri sendiri.
Dalam psikologi, gagasan tersebut dapat dikaitkan dengan Self-Determination Theory yang dikembangkan Richard Ryan dan Edward Deci. Teori ini menempatkan autonomy, atau perasaan bahwa seseorang memiliki pilihan dan kemauan sendiri, sebagai salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia, bersama competence dan relatedness. Konsep ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan perasaan memiliki kendali atas hidupnya, tetapi kendali tersebut tidak berarti seseorang harus hidup tanpa batas.
Justru ketika tidak ada orang lain yang mengatur, seseorang perlu mulai membuat batas untuk dirinya sendiri. Contohnya bisa dilihat dari cara seseorang menggunakan media sosial. Tidak ada yang secara langsung melarang seseorang membuka Instagram, TikTok, YouTube, atau bermain game selama berjam-jam, tetapi kebebasan tersebut juga membuat seseorang harus menentukan sendiri kapan waktunya berhenti.
Hal ini semakin relevan dengan tingginya penggunaan internet di Indonesia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 81,7 persen atau sekitar 235,26 juta orang dari total populasi 287,3 juta jiwa. Dengan akses digital sebesar itu, persoalannya bukan lagi hanya soal boleh atau tidak menggunakan internet, tetapi juga bagaimana seseorang menentukan batas penggunaannya sendiri.
Kapan harus berhenti scrolling? Kapan harus meletakkan ponsel? Kapan harus memberikan waktu kepada diri sendiri untuk beristirahat? Tidak ada satu aturan yang cocok untuk semua orang, sehingga sebagian batas justru perlu datang dari keputusan pribadi. Kebebasan dalam kondisi seperti ini bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan mampu menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
BACA JUGA:Jepang Akan Kenakan Biaya Evakuasi Pendaki Gunung Fuji di Luar Musim
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Clinical and Health Psychology pada 2023 menganalisis data dari 6.705 orang untuk melihat berbagai faktor yang berkaitan dengan regulasi diri dan kesejahteraan. Penelitian tersebut menemukan hubungan antara tujuan yang lebih otonom, pemenuhan kebutuhan psikologis, serta sejumlah aspek kesejahteraan dan efektivitas diri. Meski begitu, penelitian tersebut menggunakan desain cross-sectional, sehingga hubungan yang ditemukan tidak dapat langsung diartikan sebagai hubungan sebab-akibat.
Batas juga muncul dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu rutinitas. Bangun pada waktu tertentu, mengatur jadwal belajar, menentukan waktu bekerja, membatasi pengeluaran, atau menetapkan waktu untuk beristirahat mungkin terdengar seperti serangkaian aturan kecil. Namun, aturan yang dibuat sendiri dapat membantu seseorang mengetahui apa yang harus dilakukan sekaligus kapan waktunya berhenti.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: