Benci Suara Orang Mengunyah? Kenali Misophonia Menurut Penelitian Ilmiah

Benci Suara Orang Mengunyah? Kenali Misophonia Menurut Penelitian Ilmiah

penjelasan ilmiah tentang misophonia-pexels-Monstera Production

RADARTVNEWS.COM – Pernah merasa sangat kesal, marah, atau bahkan ingin menjauh hanya karena mendengar suara orang mengunyah, menyeruput minuman, mengetuk meja, atau bernapas dengan keras? Jika respons tersebut muncul secara intens dan berulang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi itu bisa jadi merupakan misophonia.

Meski masih terdengar asing di telinga masyarakat, misophonia kini semakin banyak diteliti oleh para ilmuwan. Kondisi ini bukan sekadar "tidak suka suara tertentu", melainkan respons emosional dan fisiologis yang sangat kuat terhadap suara-suara pemicu (trigger sounds). 

Apa Itu misophonia?

misophonia berasal dari bahasa Yunani, yaitu miso yang berarti "benci" dan phonia yang berarti "suara". Orang dengan misophonia dapat mengalami reaksi yang jauh lebih intens dibandingkan kebanyakan orang ketika mendengar suara tertentu.

Suara pemicunya umumnya bukan suara keras, melainkan suara sehari-hari yang dihasilkan manusia, seperti:

- suara mengunyah makanan

- menyeruput minuman

- mengecap bibir

- mengunyah permen karet

- napas berat atau mendengus

- suara klik pulpen

- ketukan jari di meja

- bunyi keyboard atau mouse.

Yang menarik, suara tersebut sering kali tidak mengganggu orang lain, tetapi bagi penderita misophonia dapat memicu reaksi emosional yang sangat kuat. 

Bukan Sekadar Kesal

Banyak orang mengira penderita misophonia hanya mudah terganggu atau sensitif terhadap suara. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa misophonia melibatkan respons emosional, fisik, dan perilaku yang nyata.

Ketika mendengar suara pemicu, seseorang dapat mengalami:

- rasa marah yang muncul secara tiba-tiba,

- jijik atau frustrasi,

- jantung berdebar lebih cepat,

- tubuh menegang,

- sulit berkonsentrasi,

- dorongan kuat untuk menutup telinga atau meninggalkan ruangan,

- keinginan menghentikan sumber suara tersebut.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemarahan dan iritasi merupakan emosi utama pada misophonia, bukan rasa takut atau cemas. Karena itu, para peneliti menilai misophonia tidak dapat disamakan dengan gangguan kecemasan. 

Apa Penyebabnya?

Hingga kini, penyebab pasti misophonia masih terus diteliti. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini kemungkinan berkaitan dengan cara otak memproses suara dan emosi.

Sebuah tinjauan ilmiah tahun 2026 menjelaskan bahwa misophonia diduga terjadi akibat hubungan yang terlalu kuat antara sistem pendengaran dengan jaringan otak yang mengatur emosi, perhatian, dan penilaian terhadap suatu rangsangan. Akibatnya, suara tertentu dianggap sangat penting atau mengancam, meskipun sebenarnya tidak berbahaya. 

Peneliti juga menemukan bahwa respons tersebut bukan dipengaruhi oleh kerasnya suara, melainkan oleh makna dan konteks dari suara tersebut. Misalnya, suara orang asing mengunyah mungkin terasa biasa, tetapi suara anggota keluarga mengunyah justru menjadi pemicu yang sangat kuat. 

Apakah misophonia Termasuk Gangguan Mental?

Hingga saat ini, misophonia belum secara resmi tercantum sebagai diagnosis tersendiri dalam pedoman diagnosis gangguan mental seperti DSM-5. Namun, penelitian mengenai kondisi ini berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Para ilmuwan menilai misophonia merupakan kondisi nyata yang dapat memengaruhi kualitas hidup, hubungan sosial, hingga pekerjaan. Bahkan, pada 2024 telah diajukan usulan agar misophonia mendapat klasifikasi tersendiri dalam International Classification of Diseases (ICD-11), meski proses peninjauannya masih berlangsung. 

Bisakah Diatasi?

Belum ada obat khusus untuk misophonia. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif berpotensi membantu sebagian penderita dalam mengelola respons emosional terhadap suara pemicu.

Selain itu, psikolog juga dapat membantu pasien mengenali pemicu, mengembangkan strategi mengelola emosi, serta mengurangi dampak misophonia terhadap kehidupan sehari-hari. Meski hasil penelitian masih terus berkembang, pendekatan psikologis dinilai menjadi salah satu metode yang paling menjanjikan saat ini. 

Kesimpulan

misophonia bukan sekadar merasa terganggu oleh suara orang lain. Kondisi ini merupakan respons emosional dan fisik yang kuat terhadap suara-suara tertentu, seperti suara mengunyah atau mengetuk meja. Meski belum diakui sebagai diagnosis resmi, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa misophonia memiliki dasar biologis dan psikologis yang nyata. Jika reaksi terhadap suara tertentu mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, atau kualitas hidup, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: