Tak Semua Makanan Kemasan Berbahaya, Ini Cara Mengenali Ultra-Processed Food
Makanan ultra proses food--Pinterest
RADARTVNEWS.COM – Istilah ultra-processed food atau makanan ultra-proses semakin sering dibahas dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak masyarakat menganggap seluruh makanan kemasan termasuk dalam kategori tersebut. Padahal, tidak semua makanan kemasan merupakan makanan ultra-proses.
Secara umum, makanan ultra-proses adalah produk pangan yang dibuat melalui proses industri dengan tambahan berbagai bahan, seperti pengawet, pemanis, pewarna, perisa, penguat rasa, hingga emulsifier.
Produk ini umumnya dirancang agar memiliki masa simpan lebih lama, praktis dikonsumsi, dan cita rasa yang konsisten.
Contoh makanan ultra-proses yang banyak dijumpai antara lain mi instan, sosis, nugget, minuman berpemanis dalam kemasan, keripik, biskuit, permen, serta makanan siap saji tertentu.
Sementara itu, tidak semua makanan kemasan termasuk kategori tersebut. Susu UHT tanpa tambahan gula, yoghurt tawar, atau sayuran beku misalnya, tetap dapat menjadi pilihan yang lebih baik karena proses pengolahannya relatif lebih sederhana.
Di Indonesia, perhatian terhadap konsumsi pangan olahan semakin meningkat. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sekitar 75 persen penyebab kematian di Indonesia berasal dari penyakit tidak menular (PTM), seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi. Salah satu faktor risiko utamanya adalah pola makan tinggi gula, garam, dan lemak yang banyak ditemukan pada makanan olahan tertentu.
BACA JUGA:Dampak Negatif Pola Makan Monoton, dan Junkfood
Pemerintah pun mulai memperkuat kebijakan untuk mendorong masyarakat memilih makanan yang lebih sehat. Pada 2026, Kementerian Kesehatan menerbitkan aturan mengenai Nutri-Level, yaitu label gizi pada pangan siap saji yang bertujuan membantu masyarakat mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak sebelum membeli makanan atau minuman. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih bijak dalam menentukan pilihan konsumsi.
BACA JUGA:Dampak Negatif Pola Makan Monoton, dan Junkfood
Selain itu, WHO Indonesia menyebut pangan olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak kini semakin mudah dijumpai serta menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas dan penyakit tidak menular di Indonesia, sehingga masyarakat dianjurkan lebih memperhatikan kandungan gizi sebelum membeli produk pangan.
Lalu, bagaimana cara mengenali makanan ultra-proses? Salah satu langkah paling mudah adalah membaca daftar komposisi pada kemasan.
Jika daftar bahannya sangat panjang dan mengandung banyak zat tambahan seperti pemanis buatan, pengawet, pewarna sintetis, atau penguat rasa, maka produk tersebut cenderung termasuk makanan ultra-proses. Sebaliknya, makanan dengan komposisi yang lebih sederhana umumnya memiliki tingkat pengolahan yang lebih rendah.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung menghindari seluruh makanan kemasan. Yang lebih penting adalah menerapkan pola makan seimbang dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein, dan makanan segar, serta membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: kementerian kesehatan republik indonesia (kemenkes ri)