Gaya Elit, Bayar Sulit: Sisi Gelap Paylater Dikalangan Gen Z

Gaya Elit, Bayar Sulit: Sisi Gelap Paylater Dikalangan Gen Z

Ilustrasi proses verifikasi wajah sebagai syarat paylater--pinterest

BANDAR LAMPUNG, RADARTVNEWS — Fenomena layanan bayar tunda atau paylater saat ini sedang menjadi tren di kalangan generasi muda, terutama Generasi Z (Gen Z). Aksesibilitas finansial digital ini ibarat pedang bermata dua, di satu sisi memberi kenyamanan, namun di sisi lain dapat menjerat mereka dalam siklus utang demi memenuhi tuntutan gaya hidup.

Slogan "Gaya Mewah, Bayar Susah" sepertinya mencerminkan realitas kelam dari penggunaan paylater di kalangan remaja saat ini.

Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), persentase kredit macet atau Non-Performing Financing (NPF) di sektor fintech lending untuk generasi muda menunjukkan peningkatan. Banyak dari mereka menggunakan fitur ini bukan untuk kebutuhan mendesak, tetapi demi memenuhi gengsi, seperti membeli pakaian bermerek, perangkat terbaru, hingga tiket konser.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan tren diyakini menjadi pendorong utama.

Kemudahan syarat yang hanya memerlukan kartu identitas (KTP) dan swafoto membuat Gen Z sangat mudah mengakses dana segar tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Dampaknya tidak hanya berimbas pada keuangan, tetapi juga pada kesehatan mental dan masa depan finansial mereka.

BACA JUGA:Hemat, Hangat, dan Bermakna, Intimate Wedding Jadi Tren Baru di Kalangan Gen Z

BACA JUGA:Ini Dua Musuh Utama Hancurkan Lambung Gen Z

Beberapa dampak nyata dari jeratan paylater yang tidak terkendali yaitu:

Gali Lubang Tutup Lubang: menggunakan aplikasi paylater baru hanya untuk melunasi tagihan di aplikasi yang lama. Teror Penagih Utang (Debt Collector): Tekanan psikologis dari panggilan berulang hingga penagihan terhadap kontak darurat. BI Checking / SLIK OJK Merah: Ini adalah dampak paling serius. Skor kredit yang rendah membuat banyak Gen Z langsung masuk daftar hitam perbankan, sehingga mereka kesulitan saat mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau modal usaha di masa depan.

Pengamat ekonomi digital berpendapat bahwa literasi keuangan di kalangan Gen Z masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan penerapan teknologinya. Mereka memahami cara menggunakan aplikasinya, tetapi tidak mengerti risiko bunga berbunga dan denda keterlambatan.

Pemerintah dan lembaga terkait terus mendorong pengguna muda untuk lebih bijaksana dalam mengelola keuangan. Prinsip utama yang harus dipegang adalah membeli sesuatu berdasarkan fungsi dan kebutuhan, bukan sekadar gaya dan gengsi semu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait