Bukan Jadul tapi Keren! Ini Alasan Anak Muda Sekarang Gandrung Gaya Vintage

Bukan Jadul tapi Keren! Ini Alasan Anak Muda Sekarang Gandrung Gaya Vintage

Inspirasi padu padan busana bertema retro vintage dan earth tone yang sedang populer di kalangan anak muda.--pinterest

BANDAR LAMPUNG— Busana longgar dengan corak retro, celana kordura, hingga jaket kulit khas era 90-an kini bukanlah pemandangan langka di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat berkumpulnya anak muda. Tren mode lama atau vintage fashion kembali bangkit dan menjadi pilihan utama bagi Generasi Z (Gen Z) untuk mengekspresikan diri.

Fenomena ini menggeser hegemonitas busana modern dan merombak stigma terhadap pakaian bekas yang dahulu dianggap ketinggalan zaman, kini menjadi lambang gaya hidup baru yang dianggap lebih modis.

Alasan terbesar di balik fenomena ini adalah hasrat untuk tampil unik dan autentik. Banyak anak muda merasa jenuh dengan produk fast fashion yang dibuat secara massal.

Munculnya tren ini juga dipengaruhi oleh media sosial seperti TikTok dan Instagram. Tagar seperti #VintageAesthetic dan #Y2KFashion telah diakses miliaran kali. Gen Z yang sangat peduli dengan visual melihat estetika warna bumi (earth tone), potongan busana dari tahun 70 hingga 90-an, dan detail jahitan klasik sebagai konten yang menarik untuk dibagikan di media sosial mereka.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap isu lingkungan. Industri fast fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Dengan memilih pakaian vintage atau melakukan thrifting (membeli baju bekas yang masih layak pakai), kaum muda merasa dapat berpenampilan fashionable sekaligus mengurangi limbah tekstil.

Ketertarikan kaum muda terhadap gaya vintage ini memberikan angin segar bagi pelaku usaha mikro. Pasar-pasar loak terkenal seperti Pasar Senen dan Pasar Baru di Jakarta, hingga Gedebage di Bandung, kini selalu dipenuhi oleh konsumen muda setiap akhir pekan. Tidak hanya itu, puluhan akun toko daring (online thrift shop) baru bermunculan setiap harinya di platform e-commerce, menawarkan kurasi pakaian klasik dengan harga yang bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah untuk barang yang termasuk kategori langka (rare item).

Dengan perpaduan antara kreativitas dalam memadupadankan pakaian (mix and match), kesadaran lingkungan, dan dorongan media sosial, tren vintage tampaknya tidak akan surut dalam waktu dekat. Bagi Gen Z, gaya ini adalah bukti bahwa untuk menjadi menarik dan modern, seseorang tidak perlu selalu membeli barang yang baru.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: