Bukan Lagi Pembersih, Tapi Perusak: Mengapa Ikan Sapu-sapu Wajib Dimusnahkan
Ilustrasi Ikan Sapu-Sapu-quarium Fishes-Pinterest
RADARTVNEWS.COM - Dulu dikenal sebagai "pembersih" akuarium karena kemampuannya memakan lumut, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) kini justru menjadi momok bagi perairan Indonesia.
Spesies asli Amerika Selatan ini dibuang dan dimusnahkan secara massal karena telah bertransformasi menjadi hama ekologi yang merusak.
Ikan yang Dibuang dan Dimusnahkan
Awalnya, ikan ini populer di kalangan penghobi. Namun, ketika ukurannya membesar dan tidak lagi diinginkan, banyak pemilik yang melepaskannya ke sungai.
Tanpa predator alami di Indonesia, ikan sapu-sapu berkembang biak dengan sangat cepat. Di Jakarta saja, dalam sekali operasi penangkapan, petugas berhasil mengangkat hampir 7 ton ikan ini dari sungai.
Gubernur DKI Jakarta bahkan memerintahkan agar ikan hasil tangkapan segera dikubur karena tidak layak konsumsi.
Dampak Kerusakan Ekosistem
Kehadiran ikan sapu-sapu merusak keseimbangan alam. Ia memakan alga dan organisme kecil yang menjadi sumber makanan ikan lokal seperti gabus dan tawes, sehingga populasi ikan asli kian tertekan.
Mulutnya yang seperti penghisap dan kebiasaannya menggali lubang di dasar sungai juga memicu erosi dan pendangkalan. Akibatnya, keanekaragaman hayati perairan menurun drastis; beberapa spesies ikan lokal bahkan terancam punah.
Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga ekonomi. Pakar IPB memperkirakan kerugian ekonomi akibat invasi ikan ini mencapai Rp 2,72 triliun per tahun, terutama dari sektor perikanan tangkap dan jasa ekosistem.
Bahaya bagi Kesehatan Manusia
Meskipun ada yang mengolahnya menjadi makanan, konsumsi ikan sapu-sapu sangat berbahaya.
Ikan ini hidup di perairan tercemar dan bertindak seperti "spons" yang menyerap dan mengakumulasi logam berat berbahaya seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), dan kadmium (Cd). Hasil laboratorium menunjukkan kandungan logam di dalam tubuhnya berada di atas ambang batas aman.
Mengonsumsinya dalam jangka panjang dapat memicu gangguan sistem saraf, kerusakan ginjal, liver, hingga gangguan pernapasan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: