Gempa Filipina jadi Pengingat, Sebenarnya Bagaimana Tsunami Terbentuk?
Daerah Pesisir Pantai --Pinterest
RADARTVNEWS.COM - Tepat pada hari ini kita dikejutkan dengan berita gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026). Peristiwa ini sempat memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah Indonesia.
Gelombang tsunami bahkan tercatat mencapai beberapa daerah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara, meski dengan ketinggian relatif kecil, yakni antara 0,09 hingga 0,19 meter.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat dekat dengan sumber-sumber aktivitas tektonik di kawasan Pasifik. Gempa besar yang terjadi di negara lain pun dapat memberikan dampak hingga ke wilayah Indonesia.
Lalu, mengapa gempa di bawah laut bisa memicu tsunami? Dan bagaimana masyarakat dapat mengenali tanda-tandanya?
Tsunami merupakan serangkaian gelombang laut yang terbentuk akibat perpindahan massa air dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Penyebab paling umum adalah gempa bumi yang terjadi di dasar laut, meskipun longsor bawah laut dan aktivitas vulkanik juga dapat memicu fenomena serupa.
Namun tidak semua gempa mampu menghasilkan tsunami. Agar tsunami terbentuk, gempa harus cukup kuat dan menyebabkan pergerakan vertikal pada dasar laut. Ketika dasar laut terangkat atau turun secara mendadak, air di atasnya ikut terdorong sehingga menciptakan gelombang yang menyebar ke segala arah.
Saat masih di tengah lautan dengan kedalaman yang cukup, gelombang tsunami sering kali tidak terlihat berbahaya. Tingginya bisa hanya beberapa puluh sentimeter. Akan tetapi, gelombang tersebut bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.
Saat mendekati pantai dan memasuki perairan yang lebih dangkal, kecepatannya menurun tetapi ketinggiannya meningkat. Kondisi inilah yang membuat tsunami menjadi sangat destruktif ketika mencapai daratan.
BACA JUGA: Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina Selatan, Bangunan Rusak dan Peringatan Tsunami Dikeluarkan
Secara umum, gempa dengan magnitudo di atas 7,0 yang terjadi di bawah laut memiliki potensi memicu tsunami, terutama jika pusat gempa berada pada kedalaman dangkal dan menyebabkan deformasi dasar laut yang signifikan.
Namun, besar kecilnya tsunami tidak hanya ditentukan oleh magnitudo gempa. Luas patahan, durasi gempa, kedalaman sumber gempa, hingga bentuk dasar laut juga berpengaruh terhadap tinggi gelombang yang dihasilkan.
Masyarakat pesisir perlu memahami tanda-tanda alami yang sering muncul sebelum tsunami terjadi. Salah satu tanda paling umum adalah gempa bumi yang terasa kuat atau berlangsung cukup lama.
Jika berada di wilayah pantai dan merasakan guncangan semacam itu, masyarakat sebaiknya segera bersiap menuju lokasi yang lebih tinggi.
Tanda lain yang sering dilaporkan adalah surutnya air laut secara tidak biasa. Air laut bisa tiba-tiba menjauh dari garis pantai hingga memperlihatkan dasar laut yang sebelumnya tidak terlihat. Kondisi ini bukan fenomena pasang surut biasa dan dapat menjadi pertanda datangnya gelombang tsunami.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: