Alasan Gen Z Mudah Terjerat Pinjol dan Paylater, Bukan Sekadar Faktor Ekonomi!

Alasan Gen Z Mudah Terjerat Pinjol dan Paylater, Bukan Sekadar Faktor Ekonomi!

ilustrasi: Gen Z yang menerapkan gaya hidup implusif--pinterest

RADARTVNEWS.COM — Media sosial sekarang punya pengaruh besar terhadap cara hidup anak muda. 

Aplikasi yang awalnya cuma tempat hiburan perlahan berubah jadi ruang pembentukan gaya hidup. 

TikTok, Instagram, sampai X membuat banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren yang sedang ramai. 

Hari ini viral soal outfit tertentu, besok berganti skincare, lalu muncul lagi tren nongkrong, konser, sampai gaya hidup estetik yang terus berubah tanpa jeda. Semua bergerak cepat, bahkan terlalu cepat.

Di tengah kondisi itu, banyak Gen Z akhirnya tumbuh dengan rasa takut tertinggal. Kalau tidak ikut tren, takut dianggap tidak update. Kalau tidak tahu sesuatu yang sedang viral, rasanya seperti tertinggal jauh dari lingkungan sekitar. 

Fenomena seperti ini yang sekarang makin sering terlihat di media sosial.

Pengamat digital sekaligus selebgram Roy Shakti pernah menyoroti bagaimana anak muda sekarang sangat mudah terpengaruh oleh tren digital. 

Menurutnya, generasi sekarang terlalu sibuk mengejar validasi dan pengakuan sosial. Apa pun yang sedang ramai langsung dianggap penting. Apa pun yang viral terasa wajib dicoba. Tidak sedikit yang akhirnya memaksakan diri demi bisa terlihat relevan di internet.

Roy Shakti juga sempat mengatakan kalau banyak motivator sekarang mulai dianggap “basi” oleh anak muda. Nasihat tentang menikmati proses, hidup sederhana, menabung, atau membangun sesuatu perlahan dianggap kalah menarik dibanding konten flexing dan kesuksesan instan. 

Media sosial membuat banyak orang lebih suka melihat hasil akhir dibanding perjuangan di baliknya.

Akibatnya, pola pikir serba cepat mulai terbentuk. Banyak anak muda ingin cepat sukses, cepat punya uang, cepat terkenal, sekaligus tetap terlihat keren di media sosial. Padahal kehidupan nyata tidak selalu berjalan secepat konten TikTok berdurasi satu menit.

Kondisi ini akhirnya memicu kebiasaan impulsive buying atau belanja impulsif. Banyak anak muda sekarang membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, melainkan karena takut ketinggalan tren. 

Konten “racun TikTok”, live shopping, diskon tengah malam, sampai video review selebgram membuat orang jadi lebih mudah tergoda membeli barang secara spontan.

Awalnya mungkin cuma penasaran. Namun karena terus muncul di beranda media sosial, barang itu akhirnya terasa seperti kebutuhan. Padahal setelah dibeli, tidak sedikit yang justru merasa biasa saja.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: