Sleepwalking: Kenapa Seseorang Bisa Jalan Saat Tidur Tanpa Sadar?

Sleepwalking: Kenapa Seseorang Bisa Jalan Saat Tidur Tanpa Sadar?

Ilustrasi -Pinterest-

RADARTVNEWS.COM -  Pernah dengar cerita seseorang bangun di tengah malam, berjalan ke dapur, membuka pintu, atau melakukan hal sederhana tanpa sadar lalu keesokan harinya sama sekali tidak ingat apa pun? 

Kedengarannya seperti adegan film, tapi kondisi ini benar-benar nyata dan dikenal sebagai sleepwalking.

Dalam dunia medis, kondisi ini disebut Sleepwalking (somnambulisme), yaitu gangguan tidur yang membuat seseorang bisa melakukan aktivitas fisik saat masih berada dalam fase tidur. 

Dari luar, orang yang mengalaminya bisa terlihat seperti sadar, padahal kesadarannya belum benar-benar bangun sepenuhnya.

Sleepwalking lebih sering terjadi pada anak-anak, meski orang dewasa juga bisa mengalaminya. Biasanya hanya sesekali, tapi pada sebagian orang bisa muncul berulang dan mulai mengganggu kualitas tidur.

Ketika otak tidak benar-benar “sinkron”

Sleepwalking terjadi saat tubuh berada di fase tidur dalam, tetapi kerja otak tidak berjalan sepenuhnya selaras. Dalam kondisi normal, otak menjaga tubuh tetap diam selama tidur. 

Namun pada sleepwalking, sebagian sistem yang mengatur gerakan tubuh bisa aktif lebih dulu, sementara bagian yang mengatur kesadaran, logika, dan memori masih tetap “tertidur”.

Akibatnya, seseorang bisa bergerak tanpa kontrol penuh. Ada yang hanya duduk di tempat tidur, berjalan ke ruangan lain, membuka pintu, atau melakukan aktivitas ringan tanpa tujuan jelas.

Setelah itu, mereka biasanya kembali tidur seperti biasa dan tidak mengingat apa pun saat bangun. Kondisi ini sering digambarkan sebagai “setengah bangun”, karena tubuh sudah aktif, tetapi kesadaran belum ikut sepenuhnya terjaga.

BACA JUGA:Sleep Debt: Kurang Tidur yang Sering Diabaikan, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Apa yang bisa memicunya?

Sejumlah penelitian menunjukkan sleepwalking bisa dipicu oleh berbagai hal. Kurang tidur menjadi salah satu pemicu paling umum karena mengganggu siklus tidur. Stres, kelelahan berlebihan, dan pola tidur yang tidak teratur juga dapat meningkatkan risikonya.

Pada beberapa kasus, demam terutama pada anak-anak hingga faktor genetik juga berperan. Itulah sebabnya kondisi ini kadang muncul dalam keluarga yang memiliki riwayat serupa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: