Grup Mahasiswa FH UI Viral Lecehkan Perempuan!

Grup Mahasiswa FH UI Viral Lecehkan Perempuan!

Tangkapan Layar Chat Grup Mahasiswa FH UI--akun X @sampahfhui

RADARTVNEWS.COM — Kasus dugaan pelecehan perempuan kembali menghebohkan dunia kampus. Kali ini, sorotan tertuju pada sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 2023 yang diduga membuat grup khusus berisi percakapan bernuansa seksual dan merendahkan perempuan.

Kasus ini pertama kali mencuat setelah akun X (Twitter) @sampahfhui mengunggah tangkapan layar percakapan grup tersebut. Unggahan itu dengan cepat menyebar luas, direpost oleh banyak akun, hingga akhirnya viral di platform TikTok dan menuai gelombang kecaman dari warganet.

Isi percakapan yang beredar bukan sekadar candaan biasa. Sejumlah kalimat menunjukkan objektifikasi tubuh perempuan secara vulgar, disertai komentar yang merendahkan dan tidak pantas. Lebih parahnya lagi, beberapa percakapan memperlihatkan bagaimana pelecehan tersebut dinormalisasi sebagai bahan lelucon di dalam grup.

Yang membuat publik semakin geram adalah identitas para pelaku. Mereka disebut sebagai mahasiswa aktif organisasi, bahkan memiliki citra yang sangat “rapi” di ruang publik seperti LinkedIn. Prestasi, jabatan, dan aktivitas mereka di kampus terlihat menjanjikan. Namun di balik itu, percakapan yang beredar justru menunjukkan wajah lain yang penuh kontradiksi.

Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang sering luput disadari, intelektualitas tidak selalu berjalan beriringan dengan etika. Lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman dan beradab, justru masih menyimpan praktik seksisme yang dianggap lumrah, selama terjadi di ruang tertutup seperti grup chat.

Candaan seksual bukan hal sepele. Ketika terus diulang dan dianggap biasa, ia berubah menjadi bentuk normalisasi kekerasan verbal. Dari sini, batas antara “bercanda” dan “melecehkan” menjadi kabur, dan korban sering kali dipaksa untuk diam.

Kasus ini juga menampar wajah organisasi kampus. Keaktifan dan jabatan tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan nilai empati dan penghormatan terhadap sesama. Kampus bukan hanya tempat mencetak CV yang “waw”, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi terkait kebenaran dan konteks lengkap dari percakapan tersebut. Namun satu hal yang jelas, respons publik menunjukkan bahwa standar terhadap perilaku mahasiswa terutama yang dianggap “intelektual” tidak lagi bisa ditawar.

Ketika ruang privat digunakan untuk merendahkan orang lain, maka itu bukan lagi sekadar urusan personal. Itu adalah cerminan budaya. Dan jika dibiarkan, kampus berisiko menjadi tempat di mana kecerdasan tumbuh, tetapi empati mati.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: