Kilas Balik Kain Tapis: Menelusuri Jejak Peradaban dan Kemewahan Budaya Lampung
ilustrasi kain tapis-foto:pinterest-
RADARTVNEWS.COM-Kain Tapis bukan sekadar selembar wastra tradisional bagi masyarakat Lampung; ia adalah simbol status, identitas, dan saksi bisu perjalanan sejarah di ujung selatan Pulau Sumatera. Sebagai kerajinan tenun ikat yang dipadukan dengan sulaman benang emas atau perak, Tapis mencerminkan perpaduan harmonis antara kekayaan alam, kreativitas seni, dan pengaruh budaya luar yang masuk ke tanah Sang Bumi Ruwa Jurai sejak berabad-abad silam.
1. Akar Sejarah dan Pengaruh Budaya
Keberadaan kain Tapis diyakini sudah ada sejak zaman prasejarah, di mana nenek moyang masyarakat Lampung telah mengenal teknik menenun menggunakan serat kapas dan pewarna alami dari tumbuhan. Seiring berkembangnya jalur perdagangan maritim, pengaruh kebudayaan dari luar mulai memperkaya estetika Tapis. Pengaruh Hindu-Buddha membawa motif flora dan fauna yang rumit, sementara kontak dengan pedagang dari Tiongkok, India, dan Arab memperkenalkan benang emas (sulam suji) yang memberikan kesan mewah dan ningrat pada kain tersebut.
2. Simbol Struktur Sosial dan Adat
Secara historis, penggunaan Tapis sangat erat kaitannya dengan strata sosial dan ritual adat (Begawi). Tidak sembarang orang bisa mengenakan motif tertentu. Jenis Tapis seperti Tapis Jung Sarat, yang penuh dengan sulaman emas, secara tradisional hanya dikenakan oleh para pengantin wanita atau istri petinggi adat (Penyimbang) dalam upacara-upacara besar. Melalui motifnya, seseorang dapat mengenali asal-usul klan, status pernikahan, hingga kedudukan sosial sang pemakai dalam struktur masyarakat Pepadun maupun Saibatin.
BACA JUGA:Kekayaan Budaya Lampung dalam Setiap Helai Benang: Mengenal Kain Tapis, Sulam Usus, dan Celugam
3. Filosofi Motif: Alam dan Kepercayaan
Setiap goresan benang pada kain Tapis menyimpan makna mendalam. Motif kuno seperti Lekuk Rebung melambangkan pertumbuhan dan kekuatan, sementara motif Kapal Lampung (sering ditemukan pada Tapis purba) melambangkan perjalanan hidup manusia menuju alam baka atau transisi kehidupan. Penggunaan benang emas yang ditenun di atas kain tenun gelap (biasanya cokelat tua atau hitam) menggambarkan kemilau cahaya di tengah kegelapan, sebuah penghormatan terhadap keagungan Tuhan dan keindahan alam semesta.
4. Transformasi Menuju Era Modern
Seiring berjalannya waktu, Tapis telah bertransformasi dari pakaian adat yang kaku menjadi ikon fesyen modern. Jika dahulu proses pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan karena dikerjakan secara manual dengan alat tenun bukan mesin (ATBM), kini variasi Tapis mulai berkembang ke arah kontemporer. Kain Tapis kini hadir dalam bentuk tas, sepatu, hingga pakaian kasual, tanpa menghilangkan esensi kemewahannya yang khas.
Kesimpulan
Kain Tapis adalah mahakarya yang menjembatani masa lalu dan masa depan Lampung. Kekuatan sejarah yang terkandung di dalam tiap helai benangnya menjadikan Tapis bukan hanya kebanggaan lokal, tetapi juga warisan budaya dunia yang harus dijaga kelestariannya.(*)
BACA JUGA:Gaya Hidup Ramah Lingkungan: Belanja Pakai Tas Kain Jadi Tren Baru
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: