Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Mengumpulkan Al-Qur’an
Ilustrasi Utsman bin Affan-Adam Malik-Pinterest
RADARTVNEWS.COM - Utsman bin Affan dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kelembutan hati, sifat dermawan, dan peran besar dalam sejarah Islam. Ia merupakan khalifah ketiga setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, serta termasuk dalam golongan Khulafaur Rasyidin. Sosoknya sering dikenang sebagai pemimpin yang tenang, pemalu, namun tegas dalam prinsip.
Dilansir dari berbagai sumber sejarah Islam klasik seperti karya Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Utsman lahir dari Bani Umayyah, salah satu kabilah terpandang di Makkah. Ia termasuk orang yang pertama masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar. Keislamannya membuatnya menghadapi tekanan dari keluarganya sendiri, namun hal itu tidak menggoyahkan imannya.
Utsman mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti “Pemilik Dua Cahaya”. Julukan ini diberikan karena ia menikahi dua putri Rasulullah SAW, yaitu Ruqayyah dan setelah wafatnya Ruqayyah, ia menikah dengan Ummu Kultsum. Tidak ada sahabat lain yang mendapatkan kehormatan tersebut.
Sifat dermawan Utsman sangat menonjol. Dilansir dari riwayat yang juga dicatat oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya, Utsman pernah membeli sumur Raumah di Madinah dari seorang Yahudi dan mewakafkannya untuk kaum Muslimin karena saat itu air bersih sulit didapatkan. Ia juga menyumbangkan ratusan unta dan perlengkapan perang dalam Perang Tabuk ketika kaum Muslimin kekurangan logistik.
Masa kepemimpinannya dimulai pada tahun 644 M setelah wafatnya Umar bin Khattab. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Islam semakin luas hingga ke Afrika Utara dan Asia Tengah. Namun, kontribusi terbesarnya yang paling dikenang adalah kodifikasi Al-Qur’an.
Dilansir dari literatur sejarah seperti karya Ath-Thabari, pada masa Utsman muncul perbedaan cara membaca Al-Qur’an di berbagai wilayah Islam. Untuk mencegah perpecahan, Utsman membentuk tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk menyusun mushaf standar berdasarkan naskah yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar. Mushaf tersebut kemudian diperbanyak dan dikirim ke berbagai wilayah. Mushaf ini dikenal sebagai Mushaf Utsmani dan menjadi rujukan umat Islam hingga hari ini.
Meski dikenal lembut, masa akhir kepemimpinan Utsman diwarnai gejolak politik. Beberapa kelompok merasa tidak puas dengan kebijakannya, terutama terkait pengangkatan pejabat dari kalangan keluarganya. Situasi ini memuncak pada pengepungan rumahnya di Madinah. Utsman memilih tidak melawan demi menghindari pertumpahan darah sesama Muslim. Pada tahun 656 M, ia wafat dalam keadaan membaca Al-Qur’an.
Kisah hidup Utsman bin Affan menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kekuatan, tetapi juga tentang kesabaran, kedermawanan, dan komitmen menjaga persatuan umat. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai khalifah yang berjasa besar dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an dan memperluas peradaban Islam. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: